Kolokium Agus Supriadi Keanekaragaman jenis udang air tawar di sungai yang berasal dari Gunung Salak

KOLOKIUM MASALAH KHUSUS

DEPARTEMEN BIOLOGI FMIPA-IPB

 

Keanekaragaman jenis udang air tawar di sungai yang berasal dari Gunung Salak

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sungai merupakan suatu perairan terbuka yang memiliki arus, perbedaan gradien lingkungan, serta masih dipengaruhi daratan. Sungai memiliki beberapa ciri, antara lain memiliki arus, waktu tinggal air,  adaptasi biota khusus, dan tidak ada stratifikasi suhu dan oksigen, serta sangat mudah mengalami pencemaran (Odum 1996).

Keragaman adalah banyaknya spesies yang ada dalam suatu ekosistem. Keragaman spesies yang tinggi menunjukkan keseimbangan ekosistem yang  baik.. Sebaliknya keragaman yang rendah menunjukkan ekosistem tersebut mengalami kerusakan akibat faktor lingkungan. Indeks keragaman merupakan ukuran tingkat keragaman dalam suatu ekosistem. Salah satu komponen biotik dalam sungai adalah udang air tawar. Udang air tawar mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Udang air tawar berfungsi sebagai makanan bagi hewan akuatik yang lebih besar, seperti ikan. Udang air tawar juga berfungsi sebagai pemakan bangkai dan detritus di sungai, kolam dan danau. Jika udang air tawar tidak terdapat di perairan, perairan akan mengalami pembusukan yang dapat meningkatkan zat amoniak dan bersifat racun (Wowor 2010).

Udang air tawar dikelompokkan dalam subfilum Crustacea, kelas Malacostraca, ordo Decapoda, yang terdiri dari famili Palaemonidae, Atyidae dan Alpheidae (Holthuis 1980). Ciri-ciri morfologis udang menurut Fast & Lester (1992), mempunyai tubuh yang bilateral simetris terdiri atas sejumlah ruas yang dibungkus oleh kitin sebagai eksoskeleton. Tiga pasang maksilliped yang terdapat di bagian dada digunakan untuk makan dan mempunyai lima pasang kaki jalan sehingga disebut hewan berkaki sepuluh (Decapoda). Tubuh biasanya beruas dan sistem syarafnya berupa tangga tali. Dilihat dari luar, tubuh udang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut bagian kepala, yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu. Bagian kepala tertutup kerapak, bagian perut terdiri dari lima ruas yang masing-masing ruas mempunyai sepasang pleopod dan ruas terakhir terdiri dari bagian ruas perut, dan ruas telson serta uropod (ekor kipas). Tubuh udang mempunyai rostrum, sepasang mata, sepasang antena, sepasang antenula bagian dalam dan luar, tiga buah maksilipied, lima pasang chelae (periopod), lima pasang pleopod, sepasang telson dan uropod.

 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis udang air tawar di sungai-sungai yang berasal dari Gunung Salak.

Waktu dan Tempat

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan November sampai dengan Maret 2011 di sungai yang berhulu dari Gunung Salak dan di bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan Departemen Biologi, FMIPA, IPB. 

BAHAN DAN METODE

Metode

 Penentuan titik sampling (stasiun) dan Sampling

Penentuan stasiun dilakukan dengan menandai titik sampling pada peta secara purposive, yaitu pada setiap aliran sungai ditentukan 2 titik. Kemudian, dari titik sampling yang sudah ditentukan dilanjutkan dengan metode road sampling ke arah hulu dan hilir sungai dengan teliti. Road sampling adalah metode sampling dengan cara berjalan pada setiap titik sampling yang telah ditentukan (Ratti & Garton 1996).

Penangkapan ikan dilakukan dengan dengan berbagai alat, antara lain electrofishing, jaring, pukat dan/atau jala serokan. Lokasi sampling akan ditandai koordinatnya dengan bantuan GPS.

Pengamatan ekologi air

            Pengamatan ekologi air pada setiap titik sampling akan dilakukan terhadap beberapa parameter kualitas dan kuantitas air, antara lain suhu, kecerahan, pH, dan oksigen terlarut.

Identifikasi udang

Identifikasi udang akan dilakukan berdasarkan bentuk, pola warna, ciri-ciri morfologi dan ukuran-ukuran tubuh morfologi mengikuti kunci identifikasi Carpenter dan Niem (1998)

Analisis data

Indeks keanekaragaman komunitas udang setiap titik sampling dihitung dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shanon-Wiener () berdasarkan Odum 1972. Selain itu, keseragaman jenis udang () antar titik sampling juga akan dihitung. Keduanya menggunakan rumus sebagai berikut:

 

Jika H’ < 3,2 maka bisa diartikan keanekaragaman jenis rendah, H’ antara 3,2 dan 9.9  keanekaragaman populasi sedang, dan H’ > 9,9  keanekaragaman populasi tinggi

                                                          DAFTAR PUSTAKA

Crapenter KE, Niem VH. 1998. The Living Marine Resources of the Western Central Pasific. Volume 2: Chepaloods, Crustaceans, Holothurians, and Sharks. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nation.

Fast AW, LJ Lester. 1992. Pond Monitoring and Management Marine Shrime Culture Principle and Practise. Amsterdam: Elsevier Science Publisher.

Holthuis LB. 1980. FAO species catalogue. Shrimps and prawn of the world. An annotated catalogue of species of interest to fisheries. FAO Fisheries Synopsis, (125) vol. 1: pp. 261

Odum E P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ratti JT, Garton EO. 1996. Research and experimental design. Di dalam: Bookhout TA, editor. Research and Management Techniques for Wildlife and Habitats. USA: Allen Press. hlm 1–23.

Wowor D. 2010. Studi Biota Perairan dan Herpetofauna di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane: Kajian Hilangnya Keanekaragaman Hayati. Bogor: Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

 

No Comment

Comments are closed.