Amyda Geoffroy, 1809

Amyda adalah genus monotipik dengan hanya satu spesies, yaitu Amyda cartilaginea Boddaert, 1770.

Pengenalan

Karapas bulat sampai lonjong (mencapai 70 cm) berwarna hijaun keabu-abuan sampai coklat kehijauan dengan sejumlah spot hitam berpinggiran kuning dan titik-titik kuning pada spesimen muda. Pada hewan dewasa, spot-spot kuning memudar dan digantikan dengan garis-garis hitam memencar. Walaupun begitu, beberapa hewan dewasa tidak memperlihatkan corak itu dan mempunyai karapas rata kehijauan. Beberapa garis longitudinal terbuat dari tuberkel ditemukan pada karapas juvenil yang kemudian hilang pada hewan dewasa yang berukuran besar yang digantikan dengan karapas mulus. Jejeran tuberkel besar terdapat di atas karapas bagian anterior di atas leher. Tulang preneural tidak ada, dan hanya terdapat satu neural yang memisahkan pasangan kostal bagian anterior. Pasangan tulang kostal ke-8 sangat berkembang dan sampai saling bersinggungan di midline. Tulang-tulang karapas sangat berpori-pori. Plastron berwarna putih sampai keabu-abuan, mempunyai 5 kalosit yang mana kurang berpori atau pori-pori jarang-jarang. Preplastra hampir atau telah bersinggungan, dan epiplastra membentuk sudut terhadap midline. Ukuran tengkorak sedang, mempunyai tulang moncong yang sangat panjang dibanding diameter orbit. Sambungan simfisis berkembang baik di sepanjang rahang bawah yang panjangnya sama dengan diameter orbit. Permukaan bagian penggerus rahang atas tidak kasar. Kepala, leher dan anggota tubuh kehijauan dengan sejumlah spot-spot kecil kuning dan spot agak besar membentuk blotch kemerahan kadang terdapat di belakang orbit di sisi kepala. Spot tersebut kemudian memudar mengikuti pertambahan umur dan meninggalkan suatu jaringan garis-garis berwarna gelap pada hewan dewasa yang berkepala kehijauan.

Jantan mempunyai ekor panjang dan tebal dengan bukaa anal lebih ke ujung; ekor betina pendek. jantan mempunyai plastron putih dan betina keabu-abuan.

Penyebaran

A. cartilaginea menyebar mulai dari Gulf of Tonkin Vietnam ke arah Barat melewati Laos, kamboja dan Thailand, ke Burma bagian Selatan dan terus ke Selatan melewati malaysia sampai ke Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Variasi geografis

Sampai sekarang tidak ditemukan adanya subspesies, walaupun begitu, A. nakornsrithammarajensis (Wirot, 1979) dari Thailand mungkin bisa dianggap valid sebagai subspesies. Sayang sekali, spesimen yang tersedia untuk diperbandingkan sangat sedikit. Hewan dewasanya mempunyai karapas yang lebih bulat dengan bagian dorsal halus tetapi tuberkel terdapat di sepanjang tepi anterior karapas. Foto yang ditampilkan Wirot (1979) menunjukkan masih dipertahankannya pola spot-spot kuning di atas karapas dan kepala hewan dewasa tetapi pada A. cartilaginea spot-spot tersebut menghilang dan digantikan dengan spot-spot atau pencaran-pencaran hitam.

Habitat

A. cartilaginea ditemukan baik pada perairan di pegunungan yang berlumpur, perairan dataran rendah yang mengalir pelan dan sungai-sungai dan juga ditemukan di danau, rawa dan oxbow lakes yang berdekatan dengan sungai besar.

Kehidupan

Sarang digali di galangan lumpur sungai (Smith, 1931). Wirot (1979) mencatat bahwa di Thailand 3 atau 4 sarang telur dibuat setiap tahun; betina muda meletakkan telur 6-10 butir dan betina yang lebih tua meletakkan telur 20-30 butir. Moll (1979) melaporkan jumlah telur adalah 5-7 butir, dan Bourret (1941) menyatakan secara tipikal jumlah telur adalah 4-8 butir. Walaupun begitu jumlah normalnya tidak diketahui.Cangkang telur rapuh, bentuk membulat dengan diameter 21-33 mm, dan periode inkubasi lama, yaitu 135-140 hari (Bourret, 1941).

A. cartilaginea sangat karnivor, makan ikan, amfibi, krustasea, insekta air dan invertebrata yang terdapat di perairan. Walaupun begitu di daerah Cirebon dimana hewan ini dianggap keramat sehingga terdapat dalam jumlah banyak di kolam-kolam penduduk, bisa makan apa saja termasuk nasi dan kerupuk.

Wirot (1979) melaporkan bahwa kura-kura ini suka naik ke darat untuk menggali tanah dan beristirahat dalam waktu yang lama dengan hanya memunculkan ujung moncongnya. Dalam pemeliharaan kami dia jarang berjemur atau keluar dari air, walau begitu waktunya banyak dihabiskan di bawah pasir di dalam air; mereka juga tampak sangat nokturnal. A. cartilaginea galak dan dapat dipastikan akan menggigit bila dipegang. Daging spesies ini dianggap kurang enak dibanding kura-kura berkarapas lunak yang lain.

No Comment

Comments are closed.