Cuora Gray, 1855

Asiatic box turtle dari genus Cuora secara umum dianggap berkerabat dekat dengan genus Cyclemys, walau pada penampakan tengkorak secara eksternal pada juvenilnya lebih mirip dengan Mauremys, terutama M. mutica. Pada beberapa spesies anggota genus ini mempunyai batang postorbital sedang yang lain tidak.

Genus Cuora adalah hewan tropik dan hidup di habitat semiakuatik. Karapas kura-kura dewasa bisa sangat atau agak cembung, dengan satu lunas median dan dua lunas longitudinal paralel, dan tepi karapas posterior rata. Tulang neural berbentuk heksagonal dengan bagian posteriornya pendek. Terdapat engsel plastron di antara pektoral dan abdominal (antara hyo dan hypoplastra) yang menyebabkan dua lobus plastron bisa digerakkan dan bisa menutup cangkangnya dengan rapat seperti American box turtle (Terrapene). Tepi posterior lobus belakang kadang bertakik. Entoplastron dipotong oleh lipatan humero-pektoral. Tidak ada jembatan dan penopang plastron karena kebanyakan diserap; plastron dihubungkan dengan karapas oleh suatu ligamen. Tengkorak pendek dan biasanya mempunyai lengkung temporal yang lengkap (kecuali C. flavomar­ginata). Squamosal bersinggungan dengan postorbital tetapi tidak dengan jugal. Jugal dipisahkan dari quadratojugal oleh postorbital (quadratojugal tidak ada pada C. flavomarginata dan C. galbinofrons). Tepi anterior dari prosses parietal inferior tidak ke depan, dan ia dipisahkan dengan jugal oleh pterygoid, tetapi tidak bersinggungan dengan palatine. McDowell (1964) mencatat bahwa pterygoid gagal tumbuh dan menutupi permukaan medial dari quadrat sehingga memunculkan ia dari dinding kanal cavernosa. Permukaan penggerus rahang sangat sempit, dan premaksila bersinggungan membentuk prosses seperti kait. Jari-jari berselaput sebagian.

Kromosom diploidnya berjumlah 50 atau 52 (Gorman, 1973).

Bour (1980b) dan Hirayana (1984) menempatkan spesies flavomarginata, galbinifrons dan hainanensis ke dalam genus Cistoclemmys Gray, 1863a, sedang yang lain tetap pada genus Cuora. Penempatan tersebut didasarkan pada kranial (deskripsi oleh Hirayana, 1984) dan pada perkiraan tidak adanya lipatan interanal. Dalam hal ini mereka tidak setuju pada karakter-karakter penting dari struktur karapas dan struktur engsel plastron dan kinetik karapas (Bramble, 1974). Pengujian atas seri flavomarginata dan galbinifrons oleh Ernst memperlihatkan bahwa lipatan interanal hilang (atau diwakili oleh tonjolan yang rendah) sebagai akibat abrasi. Juvenil yang kecil masih mempunyai lipatan tersebut sedangkan juvenil yang besar memperlihatkan kehilangan yang progresif berkaitan dengan meningkatnya panjang cangkang. Pada beberapa hewan dewasa C. amboinensis, terutama dari Filipina, lipatan tersebut hilang. Sebagai tambahan, Sites, et.al. (1984) yang melakukan studi hubungan biokimiawi diantara kura-kura Batagurinae mendukung penempatan flavomarginata ke dalam Cuora. Hubungan inter­spesifik di dalam Cuora saat ini sedang dipelajari oleh Ernst, dan kami merasa masih terlalu dini untuk memisahkannya ke lain genus.

Cuora amboinensis (daudin, 1802)

Pengenalan:

Karapas hewan dewasa sangat cembung (sampai 20 cm) dengan atau tanpa lunas median; karapas hewan muda pipih dan terdapat 3 lunas yang tinggi. Bagian anterior vertebral pertama lebih luas dibanding posteriornya, vertebral ke-2 dan ke-5 lebih panjang dibanding lebar, dan ke-3 dan ke-4 biasanya lebih lebar dibanding panjang. Tepi posterior karapas agak keluar tetapi tidak sampai bergerigi, dan tidak bertakik atau kalaupun ada hanya sedikit. Warna karapas hitam kehijauan atau hitam rata. Plastron menutup sempurna bukaan karapas. Lobus posterior plastron membulat. Formula plastron adalah abd><an>pek>gul> fem>hum. Aksilar dan inguinal sangat kecil atau tidak ada. Plastron kuning sampai coklat muda, dan di bagian luar setiap sisik terdapat bulatan coklat gelap atau hitam memencar ke depan. Bagian bawah marginal kuning, dan setiap sisiknya terdapat bercak hitam. Kepala kecil sampai sedang dengan moncong mencuat dan rahang atas membentuk kait; warna kepala bagian dorsal hijau sampai coklat gelap, menghitam di lateral dan ke arah posterior menjadi kuning sampai hijau muda. Di setiap sisi terdapat garis kuning yang berjalan ke anterior dari bagian leher melewati atas orbit sampai ke ujung moncong di atas nostril yang mana di situ bertemu dua garis dari masing-masing sisi. Dua pasang garis kuning yang lain juga terdapat pada setiap sisi kepala. Pertama mulai dari nostril melewati orbit dan timpanum terus ke sisi leher. Kedua mulai dari bawah nostril melewati sepanjang rahang atas terus ke leher. Di bawah rahang dan dagu kuning, anggota tubuh kehijauan atau hitam dan sisi depan kaki depan ditutupi oleh sisik yang melebar horisontal.

Hewan jantan mempunyai plastron yang agak cekung dan panjang serta berekor tebal.

Penyebaran

Cuora amboinensis ditemukan di Kepulauan Nichibar, Bangladesh (Khan, 1982), Asaam (Moll dan Vijaya, 1986), ke selatan melewati Birma, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Malaya, dan ke Indonesia bagian Timur, Sulawesi dan Ambon (tipe lokalitas). Juga ditemukan sampai Filipina (Luzon, Palillo, Dinagat dan Mindanao). Secara khusus, C. amboinensis merupakan kura-kura air tawar yang di Indonesia mempunyai penyebaran yang paling luas.

Variasi Geografis

Walaupun penyebaran C. amboinensis ini sangat luas tidak ditemukan variasi subspesies yang telah dideskripsikan. Pada beberapa daerah penyebaran, ditemukan bentuk karapas agak rata.

Habitat

Hidup di perairan dataran rendah dengan dasar lembut dan beraliran tenang, seperti rawa-rawa, danau, waduk dan genangan persawahan padi. Sebagian masyarakat di Jawa menyebutnya dengan nama kura-kura sawah. Walaupun sangat akuatik, sering ditemukan jauh dari air. Taylor (1920) melaporkan bahwa juvenil sepenuhnya akuatik.

Kehidupan:

Cuora amboinensis peramah dan pemalu. Hanya bertelur 2 butir yang diletakkan antara April sampai akhir Juni dengan tiga sampai empat sarang. Cangkang telur rapuh, putih, memanjang dengan ukuran 40-46 mm x 30-34 mm (Smith, 1931). Kura-kura yang baru menetas mempunyai 3 lunas dengan panjang karapas 46-48 mm.

Di alam liar, C. amboinensis bersifat herbivor, tetapi di pemeliharaan dia segera belajar memakan berbagai makanan hewani dan sangat rakus.

No Comment

Comments are closed.