Cyclemys Bell, 1834

Genus oriental Cyclemys disamakan dengan Pyxidea dan Cuora dalam hal mekanisme penutupan plastron dan kemungkinan berasal dari nenek moyang yang mirip dengan Hesosemys (Bramble, 1974). McDowell (1964) mengemukakan juga kekerabatannya dengan genus Geoemyda. Spesies yang menyebar luas adalah C. dentata sedang yang kurang dikenal adalah C. thceponensis (endemik di Vietnam) yang baru saja digolongkan ke Cyclemys.

Karapas kura-kura dewasa lonjong, sedikit melengkung dan lebih panjang dibanding lebarnya; juvenil pipih dan membulat. Terdapat lunas median dan lateral, tetapi merendah dengan bertambahnya umur. Neural berbentuk heksagonal dengan bagian posteriornya lebih pendek. Tepi posterior karapas bergerigi, terutama pada juvenil. Plastron besar dan terdapat engsel yang berkembang diantara tulang hyo dan hypoplastron pada lipatan diantara pektoral dan abdomimal. Hal ini menyebabkan lobus anterior bisa menutup walaupun tidak sempurna. Pada kura-kura dewasa, penopang plastron diserap dan plastron dihubungkan dengan karapas hanya oleh suatu ligamen. Tengkorak mempunyai lengkung temporal yang lengkap, tetapi squamosal tidak bersinggungan secara normal dengan jugal. Bagian ventral jugal melebar. Persinggungan parietal dengan tulang quadrat di atas foramin adalah untuk syaraf trigeminal; tetapi, pada sisi anterior dari prosses parietal inferior tidak bersinggungan dengan jugal atau palatin. Bentuk fissure etmoidal segitiga lancip atau seperti lubang kunci. Permukaan penggerus rahang atas sempit dan rata. Mempunyai bursa kloakal. Jari-jari berselaput sebagian.

Nakamura (1949), Stock (1972) dan Killebrew (1977) me­la­porkan kariotip C. dentata adalah 2n=52; tapi Kiester dan Childress (dalam Gorman, 1973) menemukan variasi antara 50 dan 52.

Cyclemys dentata (Gray, 1831b)

Pengenalan

Bentuk C. dentata mudah dikenali yaitu tipis dengan cangkang lebih lebar dibanding C. mouhoti. Karapas lonjong (sampai 24 cm), sedikit melengkung dan terdapat satu lunas di median yang rendah. Vertebral biasanya lebih lebar dibanding panjang, tetapi vertebral ke-2 sampai ke-4  panjang dan lebarnya bisa sama. Tepi posterior karapas bergerigi, dan semua sisik mempunyai permukaan yang halus. Warna karapas beragam dari coklat terang sampai gelap, hitam, kehijauan atau kadang-kadang mahagoni; terdapat garis-garis kecil memencar. Plastron pada hewan dewasa lebih sempit dibanding bukaan karapas dan bertakik di bagian posterior. Formula plastron adalah pec>abd>an>fe><gul>hum. Warna plastron beragam dari kuning atau coklat muda dengan garis-garis gelap memencar sampai ke warna coklat tua atau hitam rata. Moncong agak mencuat dan di kedua sisi rahang atas tidak mirip gigi. Posterior kulit kepala ditutupi oleh sisik-sisik besar; dorsal kepala coklat kemerahan sedangkan di sisi dan rahang coklat tua. Bagian yang lunak berwarna abu-abu dengan titik-titik kuning atau merah muda kekuningan, titik-titik tersebut di bagian leher membentuk strip. Kaki coklat muda dan di sisi depan terdapat sisi-sisik besar. Jari-jari berselaput sebagian. Engsel plastron berkembang pada spesimen dewasa (yaitu 9 atau 10 inci), tetapi kadang spesimen dengan panjang 6 atau 7 inci tidak ada tanda-tanda berkembangnya engsel dan sudut yang tajam yang tampak diantara pertemuan pektoral dan abdominal pada midline memberikan kesan bahwa tidak mungkin engsel berkembang disitu. Walaupun demikian, begitu mencapai dewasa jembatan saling mendekat karena jaringan yang fleksibel dan engsel berkembang melintasi bagian depan sisik abdominal.

Spesimen muda dari C. dentata kadang rancu dengan Heosemys grandis. Walaupun begitu, grandis mempunyai pigmentasi yang lebih hitam di bagian bawahnya, garis-garis yang memencar di setiap sisik menjadi lebar dan aerola berwarna hitam, dan secara mencolok rahang atas bicuspid, dan titik-titik di bagian atas kepala sama dengan di bagian sisi kepala.

Hewan betina kura-kura ini tumbuh lebih besar dibanding jantan, tetapi jantan lebih panjang dengan ekor lebih tebal.

Penyebaran

India bagian Utara ke arah Selatan melewati Birma, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Malaya sampai ke Sumatera, Nias Kepulauan Natuna, Bangka Jawa dan Kalimantan. Juga ditemukan di Filipina (Pulau Palawan, Balabac dan Leyte).

Variasi Geografis

Belum dipelajari, tetapi memperhatikan Smith (1931) diduga variasi pola warna tidak berhubungan dengan distribusi geografis. Tidak ada subspesies yang dianggap valid, walaupun corak warna spesies ini sangat beragam.

Habitat

Merupakan kura-kura semiakuatik yang hidup di perairan dangkal baik di dataran rendah maupun di pegunungan.

 

Kehidupan

Wirot (1979) mencatat beberapa sarang telur diletakkan sepanjang tahun. Sarang secara tipikal mengandung 2 atau 3 butir telur yang memanjang, putih dengan ukuran 57×30-35 mm (smith, 1931; Ewert, 1979). Plastron betina agak bisa digerakkan sehingga bisa meletakkan telur yang besar. Ewert (1979) yang mengukur 12 penetasan menemukan rata-rata panjang karapas adalah 56.2 mm.

C. dentata bersifat omnivor,  yaitu makan baik tumbuh-tumbuhan atau hewan, di dalam air atau di darat. Hewan ini peramah dan lincah, dan berkembang dengan baik dalam pemeliharaan sehingga sangat laku sebagai hewan piara. Bersama-sama dengan Notochelys platynota, para pedagang hewan piaraan menyebutnya sebagai kura-kura matahari. Spesimen muda di lingkungan liarnya adalah akuatik tetapi dewasa hampir selalu terestrial.

No Comment

Comments are closed.