Distribution and Diversity of Ectoparasite Mites on Geckos

Nama : Taruni Sri Prawasti G352090031
Pembimbing : Achmad Farajallah Rika Raffiudin
Tanggal Lulus : Agustus 2011
Judul Thesis : Distribusi dan keanekaragaman Tungau ektoparasit pada cicak di Indonesia
    Distribution and Diversity of Ectoparasite Mites on Geckos in Indonesia
Ringkasan:
Cicak Cosymbotus platyurus, Hemidactylus frenatus dan Hemidactylus garnotii merupakan cicak rumah yang sering dijumpai di sekitar manusia. Informasi mengenai tungau ektoparasit pada cicak di Indonesia sangat diperlukan untuk mengantisipasi adanya penyakit yang disebarkan akibat interaksi tersebut. Penelitian ini dilakukan berdasar pada data penyebaran cicak di Indonesia dan adanya interaksi antara cicak dengan tungau ektoparasit.

Cicak dikoleksi dari berbagai daerah di Indonesia. Cicak diidentifikasi dan disimpan dalam etanol 70% secara terpisah. Selanjutnya tungau yang menempel pada tubuh cicak diambil, dihitung, difiksasi dengan alkohol 70% dan disimpan terpisah. Analisis keberadaan tungau pada tubuh cicak dilakukan dengan menghitung nilai prevalensi, intensitas infestasi dan pola perlekatan tungau pada tubuh cicak. Distribusi tungau pada tubuh cicak dilakukan dengan menghitung jumlah tiap jenis tungau yang melekat pada tubuh cicak tersebut.

Sebanyak 448 ekor cicak yang dikoleksi dari duapuluh lima lokasi, diidentifikasi sebagai C. platyurus, H. frenatus dan H. garnotii; 221 ekor cicak terinfestasi tungau. Seluruh tungau yang menginfestasi cicak (2 494 tungau) diidentifikasi sebagai anggota famili Pterygosomatidae, Genus Geckobia. Pengamatan terhadap bentuk tubuh, skutum dorsal, gnatosoma, tungkai dan penyebaran seta menunjukkan bahwa tungau yang ditemukan bisa dibedakan menjadi tiga spesies. Tungau Geckobia spesies 1 (G1) ditemukan sebanyak 676 individu, tungau Geckobia spesies 2 (G2) sebanyak 206 individu dan tungau Geckobia spesies 3 (G3) sebanyak 1 612 individu. Tungau Geckobia spesies 1 (G1) dengan ciri-ciri antara lain bentuk tubuh bulat meruncing ke posterior, skutum dorsal sempit dengan seta pendek, seta di posterior skutum panjang, runcing dan jarang, seta ventral pendek, jarang. Sampel ini tidak dapat diidentifikasi nama spesiesnya. Tungau Geckobia spesies 2 (G2) dengan ciri-ciri antara lain tubuh berbentuk segitiga, skutum dorsal membesar dibagian anterior dengan 12-14 spur, seta di belakang skutum pendek tebal dan tersusun rapat, tungkai ke-4 dua kali panjang tungkai pertama. Sampel ini diidentifikasi sebagai Geckobia glebosum. Tungau Geckobia spesies 3 (G3), dengan ciri-ciri bentuk membulat ke posterior, skutum dorsal lebar dengan seta pilosa, seta di posterior skutum panjang, rapat, seta ventral lebih pendek dan jarang, terdapat spur pada palpatarsus. Sampel ini diidentifikasi sebagai Geckobia bataviensis. Persebaran cicak pada duapuluh lima lokasi penangkapan terlihat acak atau tidak berpola. Berdasar data keberadaan ketiga spesies cicak dan kemampuan ketiga spesies cicak tersebut hidup bersama pada satu lokasi, dapat dikatakan bahwa ketiga spesies cicak yang diteliti bersifat simpatrik dengan pola persebaran acak.

Berdasar spesies inang, tungau G1 lebih banyak menginfestasi H. garnotii dengan intensitas infestasi 7,0. Tungau G. glebosum menginfestasi H. frenatus dengan intensitas infestasi 3,50 dan tungau G. bataviensis menginfestasi H. garnotii dengan intensitas infestasi 11,80. Ketiga spesies tungau ini bisa menginfestasi ketiga spesies cicak yang diteliti. Artinya, spesies tungau yang sama dapat menginfestasi spesies cicak yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa tungau G1, G. glebosum dan G. bataviensis tidak spesifik sebagai ektoparasit pada spesies cicak tertentu, menyebar secara acak dan bersifat simpatrik.

Dapat disimpulkan bahwa tungau yang menginfestasi cicak C. platyurus, H. frenatus dan H. garnotii adalah tungau Famili Pterygosomatidae, Genus Geckobia, Spesies Geckobia G1, Geckobia glebosum dan Geckobia bataviensis. Ketiga spesies cicak yang diteliti dan ketiga spesies tungau yang menginfestasi tidak memiliki pola distribusi yang spesifik; persebaran berlangsung secara acak dan bersifat simpatrik. Prevalensi infestasi tungau tertinggi pada cicak H. garnotii. Ketiga spesies tungau tidak spesifik sebagai ektoparasit pada spesies cicak tertentu. Pola perlekatan tungau pada tubuh inang spesifik untuk beberapa spesies tungau.

 

Abstract:
Data on the diversity and dispersal of parasitic mites on house geckos in Indonesia are very scarce. In this work, the distribution and diversity of mites living on three species of house geckos, namely Cosymbotus platyurus, Hemidactylus frenatus, and H. garnotii collected throughout Indonesia, has been elaborated. Geckos and mites were captured and immediately preserved in 70% ethanol. Whole mount of the mites was prepared by clearing in lactophenol followed by mounting on polyvinyl lactophenol solutions. The SEM preparation was conducted to examine the detail morphological characters of the mites. The results showed that among 448 individuals of geckos, 221 geckos were infected by Geckobia mites. Prevalences of C. platyurus, H. frenatus, and H. garnotii infested by mites were 14.8%, 50.69%, and 79.6%, respectively. Three different spesies of Geckobia (G1, G2, and G3) could be differentiated; and based on similarities of their morphological characters to ones described in published literatures, Geckobia G2 is Geckobia glebosum and Geckobia G3 is Geckobia bataviensis while G1 could not be identified to the species level. The highest mean intensity of Geckobia G1 infestation was found on H. garnotii (I=7.0), G. glebosum infestation on H. frenatus (I=3.5), and G. bataviensis infestation on H. garnotii (I=11.8). In general, C. platyurus was infested by the least number of mites. Geckobia G1 were found living on the skin folds on the claws, G. glebosum were found mainly on the body and thigh, and G. bataviensis were found on almost all parts of the host’s body. Geckobia mites are distributed randomly throughout Indonesian Archipelago, following the pattern of distribution of their hosts. So it is concluded that Geckobia G1, G. glebosum, and G. bataviensis are sympatric.

[ Thesis Lengkap – fulltext ]

 

No Comment

Comments are closed.