Eksplorasi Cacing Endoparasit Saluran Pencernaan Satwa di Kebun Binatang Semarang

Ulil Albab, Achmad Farajallah, Dyah Perwitasari. 2014. Eksplorasi Cacing Endoparasit Saluran Pencernaan Satwa di Kebun Binatang Semarang. Seminar Masalah Khusus Departemen Biologi FMIPA IPB, 14 Agustus 2014

ABSTRAK

Eksplorasi parasit perlu dilakukan untuk memonitoring penyebaran parasit pada satwa koleksi di Kebun Binatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi cacing endoparasit saluran pencernaan dari satwa koleksi Kebun Binatang Semarang. Metode untuk mendeteksi ada tidaknya telur cacing dalam feses menggunakan metode pengapungan dan metode pengendapan telur cacing endoparasit yang ikut bersama feses. Dari 31 jenis satwa yang dieksplorasi diketahui 17 jenis satwa memiliki endoparasit. Hasil eksplorasi dari 17 jenis satwa tersebut, ditemukan 15 jenis endoparasit telur cacing. Hasil eksplorasi pada mamalia ditemukan Nematoda (Ascaris sp., Toxocara sp., Ancylostoma sp., Uncinaria sp., Ostertagia sp., Trichostrongylus sp., Trichuris sp., Capillaria sp.), Cestoda (Spirometra sp., Taenia sp., Hymenolepys sp.,Diphyllobothrium sp.). Hasil eksplorasi pada burung ditemukan Nematoda (Amidostomum sp., Capillaria sp.) dan Trematode (Allaria sp.). Hasil eksplorasi pada reptil ditemukan Nematoda (Rhabdias sp.). Kata kunci: Endoparasit, Nematoda, Cestoda, Trematoda, Mamalia, Aves, Reptil.

PENDAHULUAN

Kebun Binatang adalah tempat beberapa spesies satwa dikumpulkan menjadi satu dalam lingkungan buatan. Ketika satwa tersebut dihadapkan pada lingkungan buatan yang sempit dan berbagai macam satwa disatukan, maka terjadinya perpindahan parasit dari satu satwa ke satwa lain semakin besar. Penyebaran parasit saluran pencernaan pada satwa Kebun Binatang sering menimbulkan dampak negatif bagi kesejahteraan satwa (Panayotova-Pencheva 2013). Dalam kebun binatang, satwa yang dulunya terbiasa hidup dalam lingkungan yang luas akan cenderung memiliki resistensi rendah terhadap serangan parasit (Atanaskova 2011). Menurut Lim et al.(2008), penyebaran parasit pada satwa Kebun Binatang ditentukan oleh pola pemeliharaan, ketersediaan dokter satwa untuk melakukan monitoring kesehatan, dan petugas yang memberikan pengobatan. Status kesehatan satwa di Kebun Binatang tergantung pada banyak faktor diantaranya adalah makanan, kondisi satwa, manajemen satwa dan kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban (Atanaskova 2011). Selain antar satwa, zoonosis atau perpindahan parasit antara satwa ke manusia yang bisa terjadi ke pegawai Kebun Binatang atau pengunjung (Maske et al. 1990; Chakraborty et al. 1994; Kashid et al. 2003). Monitoring terhadap parasit perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran parasit di Kebun Binatang. Menurut Panayotova-Pencheva (2013), parasit yang paling umum pada satwa Kebun Binatang adalah helminth atau cacing. Cacing yang paling sering ditemukan adalah nematoda kemudian diikuti cestoda dan trematoda. Infeksi parasit merupakan penyebab utama kematian pada satwa liar di penangkaran (Rao dan Acharjyo 1984). Oleh karena itu, penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi endoparasit saluran pencernaan pada satwa Kebun Binatang sebagai langkah awal untuk meningkatkan kesejahteraan satwa Kebun Binatang Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi cacing endoparasit saluran pencernaan dari satwa koleksi Kebun Binatang Semarang melalui analisis keberadaan telur cacing dalam feses.

BAHAN DAN METODE

Pengambilan Sampel Sampel feses dari beragam satwa yang ada di Kebun Binatang Semarang diambil dalam kondisi segar dan dimasukkan kedalam botol sampel. Sampel kemudian dibawa dalam keadaan segar atau diawetkan dalam formalin 10% dan alkohol 95% untuk keperluan identifikasi di Laboratorium.

Metode sedimentasi Feses segar sebanyak 1 gram ditambah 10 ml formalin 10% kemudian diaduk hingga homogen. Larutan disaring dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi sebanyak 7 ml. Ethil asetat ditambahkan sebanyak 3 ml hingga larutan mencapai 10 ml. Telur cacing diendapkan dengan ethil asetat dan supernatan dihilangkan dan endapan yang ada diamati dengan mikroskop cahaya.

Metode pengapungan Feses segar sebanyak 10 gram digerus dengan mortar dan dicampur dengan 90 ml larutan pengapung kemudian diaduk sampai homogen. Sampel diaduk rata agar telur tidak terkonsentrasi di tengah. Cairan yang paling atas diambil dengan pipet dan dimasukkan ke dalam slide untuk diamati dengan mikroskop cahaya (Whitlock 1948).

Identifikasi Endoparasit Identifikasi telur cacing dilakukan di Laboratorium Biosistematika dan Ekologi Hewan di Departemen Biologi FAPET lantai 5 IPB. Karakter telur yang diamati yaitu ukuran, bentuk, tahap perkembangan, ketebalan selaput telur, warna, keberadaan karakter seperti operkulum, duri, kait, atau mammilated outer cost berdasarkan Noble et al. (1961); Flynn (1973); Soulsby (1982); Foreyt (2000); Baker (2007); Zajac dan Conboy (2011).

HASIL DAN PEMBAHASAN

(untuk memahami teks dari Gambar-gambar dibawah, silakan datang di hari seminarnya di Lv5 Gd FAPET Tanggal 14 Agustus 2014, pukul 14.30)

Tabel1 Gb6 Gb5 Gb4 Gb3c Gb3b Gb3a Gb2 Gb1

SIMPULAN

Kesimpulan penelitian ini yaitu dari 31 jenis satwa Kebun Binatang Semarang yang diteliti ada 17 jenis satwa (54,84 %) yang ditemukan terinfeksi parasit. Identifikasi telur parasit menemukan ada 15 jenis endoparasit telur cacing (Tabel 1). Pada mamalia ditemukan Nematoda (Ascaris sp., Toxocara sp., Ancylostoma sp., Uncinaria sp., Ostertagia sp., Trichostrongylus sp., Trichuris sp., Capillaria sp.), Cestoda (Spirometra sp., Taenia sp., Hymenolepys sp.,Diphyllobothrium sp.). Pada burung ditemukan Nematoda (Amidostomum sp., Capillaria sp.) dan Trematode (Allaria sp.). Pada reptil ditemukan Nematoda (Rhabdias sp.).

No Comment

Comments are closed.