Evolusi, Seleksi Alam dan Perintah Berpikir

Semua yang ada di bumi, langit dan di antara keduanya diciptakan Allah Azza wa Jalla. Sebagian kecil diantaranya bisa diindera secara langsung tanpa menggunakan alat dan tanpa dideduksi keberadaannya, yaitu bisa dilihat, didengar, diraba maupun dicium secara langsung . Sebagian kecil yang lain berada dalam satu jaman dengan kita. Namun begitu, sebagian besar ciptaanNya tidak bisa diindera secara langsung, baik karena berada tidak dalam satu jaman dengan kita maupun karena bendanya berada di luar kisaran kemampuan indera. Opini ini akan mengulas benda dalam kategori benda hidup yang hidup tidak sejaman dengan manusia dan juga yang tidak bisa diindera secara langsung oleh manusia.

Salah satu yang dijadikan pegangan utama untuk bisa memahami bahwa semua yang ada adalah ciptaanNya adalah perintah untuk menggunakan akal, misalnya dalam QS 34:36: Katakanlah hai Muhammad: ” Aku hanya menganjurkan kepadanya satu hal saja, yaitu berdirilah karena Allah berdua-dua atau bersendiri-sendiri, kemudian berpikirlah”. Dalam hal ini, kita wajib tunduk dan beriman terlebih dahulu baru kemudian kita dipersilakan berpikir. Tidak ada batasan apa yang boleh dan tidak boleh dipikir. Yang ada adalah kalau pikiran kita benar maka dapat 2 pahala, yaitu telah berpikir dan benar. Kalau pikiran kita salah, hanya dapat 1 pahala, yaitu telah berpikir. Jadi dalam hal ini, berpikir adalah perintah dan bisa salah ataupun bisa benar. Hanya saja ada beberapa clue yang disarankan untuk tidak terlalu dipikir karena akan menghabiskan sumberdaya waktu dan tenaga yang terlalu banyak, yaitu berpikir tentang kehidupan roh dan hal-hal yang ghaib. Keduanya dikategorikan dalam domain “transendental” yang harus diimani secara mutlak. Di luar domain itu, kita disuruh untuk selalu berfikir tentang apapun dari ciptaanNya yang ada di bumi, di langit dan diantara keduanya, sepanjang waktu.

Salah satu fenomena yang selalu heboh dan kalau kita memikirkannya selalu dianggap menentang Allah Sang Maha Pencipta adalah teori evolusi yang disampaikan oleh Tuan Darwin. Teori evolusi tsb dihasilkan oleh pikiran Tuan Darwin setelah mengamati beragam bentuk kehidupan. Tentunya tidak hanya Tuan Darwin yang berpikir seperti itu. Di jamannya ada Tuan Wallace, ada Tuan Huxley, dll. Sebagai suatu fakta alam, evolusi adalah salah satu cara kita menerangkan adanya beragam bentuk kehidupan. Dari sekian banyak diskusi yang mempertentangkan Teori Evolusi dan agama biasanya bermuara ke permasalahan yang sama, yaitu kemampuan indera manusia yang sangat terbatas dan umur manusia yang sangat pendek. Pertentangan antara Teori Evolusi dan Teori Penciptaan yang dimunculkan oleh kelompok non-muslim ikut-ikutan dibawa masuk ke ranah Islam. Selain itu, ada sentimen berlebihan terhadap interpretasi dari Teori Evolusi, yaitu manusia disebutkan sebagi berasal dari monyet.

Beberapa fakta yang Tuan Darwin temukan adalah
1. Semua mahluk hidup (telah) melakukan adaptasi
2. Mahluk hidup itu sangat beragam
3. Semua mahluk hidup cenderung bereproduksi melebihi kapasitas daya-dukung lingkungannya (ide dari Thomas Malthus)
4. Kemampuan mahluk hidup untuk beradaptasi dengan lingkungannya sangat beragam. Mahluk hidup yang mampu beradaptasi akan bisa terus hidup dan bereproduksi lebih baik dibanding yang lain.

Poin ke-4 dari yang ditemukan Tuan Darwin dikenal sebagai Seleksi Alam dengan jargon yang terkenalnya “survical of the fittest”. Fakta menunjukkan bahwa kemampuan bereproduksi ini bukan semata-mata karena tubuhnya lebih kuat ataupun lebih cepat, melainkan karena dia lebih “fit” dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Berdasarkan ke-4 poin diatas, kemudian Tuan Darwin merumuskan dua poin tentang evolusi, yaitu
1. mahluk hidup yang ada saat ini berasal dari mahluk hidup yang ada sebelumnya, dengan beberapa modifikasi
2. modifikasi terjadi melalui mekanisme seleksi alam

Kedua poin tentang evolusi tsb ditulis secara panjang lebar dalam bukunya yang berjudul “On the Origin of Species by Means of Natural Selection”. Dalam buku tersebut tidak ada satupun kalimat yang menyebutkan bahwa manusia merupakan keturunan monyet. Kalimat “manusia keturunan monyet” adalah hasil interpretasi dan ekstrapolasi oleh pembaca dengan tingkat pengetahuan pada jaman itu, yaitu tahun 1858, dan juga dominansi biblical creation, Di lain pihak, dampak dari karya Tuan Darwin telah dan akan terus memunculkan banyak turunan penemuan ilmu-ilmu alam dan juga melahirkan banyak teknologi.

Allah Azza wa Jalla adalah Maha Pencipta dan Maha Abadi. Pada saat ini kita temukan mahluk hidup sangat beragam. Salah satu implikasi dari teori Darwin akan berujung ke suatu kondisi dimana ada mahluk hidup yang paling awal. Fakta alam menunjukkan bahwa mahluk hidup paling awal diperkirakan berbentuk sel purba (Prokariota) yang muncul di muka bumi sekitar 3.8 milyar tahun yang lalu pada saat kondisi bumi anerobik. Kalau perkiraan data geologi dan atmosfer dijadikan acuan, maka umur bumi ini baru sekitar 5 milyar tahun. Ada jeda sekitar 1.2 milyar tahun sejak terbentuknya bumi sampai munculnya mahluk hidup pertama. Ilmu pengetahuan menyebutkan masa 1.2 milyar tahun pertama itu sebagai Jaman Hadean. Setelah sel purba sebagai mahluk hidup pertama terbentuk dalam kondisi anaerobik kemudian diikuti dengan akumulasi populasi bakteri fotosintetik yang melepaskan oksigen bebas ke udara. Oksigen bebas ini saling bereaksi membentuk ozon. Terbentuknya ozon menghalangi masuknya sinar matahari ke permukaan bumi dan sekaligus menjadi penyeleksi kemunculan mahluk-mahluk hidup berikutnya. Sekitar 1,8 milyar tahun yang lalu muncul mahluk multiseluler, kemudian sekitar 1 milyar tahun yang lalu muncul hewan.

Nah, disini muncul polemik tentang penciptaan manusia yang secara anatomis diperkirakan terbentuk sekitar 2 juta tahun yang lalu. Rangkaian proses pembentukan mahluk hidup yang memakan waktu 3.8 milyar tahun tidaklah sebanding dengan nama yang disandangkan ke Sang Maha Abadi. Disini ada dimensi waktu yang sangat berbeda antara waktu manusia dan waktu Ilahiah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang hari terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk ataupun berbaring, dan mereka bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi (sehingga memperoleh kesimpulan): “Ya Tuhan kami, tidak ada yang sia-sia segala yang Engkau ciptakan ini. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS 3:190-191)’

Ciptaan Allah sangat beragam karena yang satu “mungkin” merupakan hasil perubahan dari yang lain sewaktu mereka saling berinteraksi. Allah adalah Baqa (Maha abadi) dan Allah adalah khaliq (Maha Menciptakan). Manusia sebagai salah satu ciptaannya tidak akan mampu mengindera semua ciptaan Allah, baik langsung maupun menggunakan alat dan metode-metode penelitian yang paling canggih sekalipun. Ya kita tidak akan mampu untuk itu tapi kita diperintahkan untuk berpikir. Maka muncullah berbagai hasil olah pikir yang kita sebut teori, aksioma, hipotesis dll. Teori evolusi adalah hasil pikiran manusia untuk menerangkan keberagaman ciptaan Allah. Selama didukung oleh bukti-bukti yang ada dan bisa dipertanggungjawabkan metodologinya maka hasil pikiran manusia tersebut untuk sementara bisa kita terima. Guru saya biasanya setelah menerangkan sesuatu hasil pikirannya akan diikuti dengan bergumam “wallahu a’lam bil muradi”. Suatu sikap pengakuan bahwa Allah Maha Benar.

Salahkah Darwin? Benarkah Harun Yahya?

Karena sentimen bahwa Darwin adalah nonmuslim maka pasti salah, sedangkan H. Yahya yang muslim pasti benar.

Ya memang ada peringatan ” Hai orang-orang beriman, jika kamu mendapat kabar ….ila akhiri ayah” Artinya bukan salah tapi harus diperiksa ulang, dicermati dan tidak boleh langsung dipercaya. Kalau ayat ini kita gabungkan ke konsep wajib dalam Islam maka akan muncul benang merah siapa yang boleh kita condongi sebagai benar.
Konsep wajib dalam Islam, yaitu ada fardh ‘ain yang melekat ke individu dan ada frdh kifaya yang melekat ke kelompok/masyarakat. Fardh ‘ain tidak bisa dibantah, mau tidak mau harus dilakukan oleh seluruh Muslim sedangkan fardh kifaya hanya boleh dilakukan oleh satu atau dua orang saja atau satu kelompok orang saja dengan syarat dia layak untuk melakukannya. Disebut layak karena profesinya. Disebut layak karena dia ahlinya. Disebut layak karena dia telah belajar untuk itu. Jadi dalam hal ini Darwin layak untuk menerangkan mekanisme evolusi yang terkenal dengan teori evolusi karena profesi dia sebagai peneliti evolusi. Lalu layakkah H. Yahya menerangkan mekanisme evolusi dari sudut pandang fardh kifaya? Wallahu a’lam.

Lalu bagaimana kita harus menanggapi yang bukan teori (pernyataan yang didukung bukti-bukti kuat), melainkan baru hipotesis (dukungan bukti pernyataan perlu diklarifikasi dan diteliti lebih lanjut)?

Beragam hipotesis di seputar Evolusi ini didukung oleh berbagai bukti yang harus dibuktikan lebih lanjut kebenarannya. Sesuai namanya, hipotesis = dugaan. Menduga = berpikir. Berpikir = perintah Allah.
Jadi tolong renungkan lagi.

Semoga bermanfaat.

AFM

No Comment

Comments are closed.