Ekoteknologi

Ahadyah:

Saya kurang begitu mengerti tentang ekoteknologi yang sekarang menjadi trending topik, Pak. Maksudnya apakah kita menciptakan teknologi yang ujung-ujungnya menghasilkan keuntungan ekonomi Pak?? Lalu, bagaimana yang dimaksud dengan pemberdayaan manusia berbasis ekoteknologi, Pak??  Jujur saja saya bingung Pak.

AFM:

Sekitar tahun 70-an muncul istilah green revolution untuk mengimbangi pertumbuhan yang pesat industri. Istilah ini kemudian didominasi oleh kegiatan meningkatkan produktitas pertanian dengan pemupukan, penggunaan pestisida, bibit unggul  yang kesemuanya berhubungan dengan teknologi. Selain itu ada usaha penyuluhan yang berhubungan dengan mengubah budaya pertanian. Selain intensifikasi tsb ada juga usaha ektensifikasi, yi pencetakan sawah-sawah baru di luar Jawa.
Revitalisasi pertanian gaya green revolution menunjukkan hasil yang luar biasa dari sisi kemajuan bangsa tetapi masih tertinggal dengan industri non pertanian. Dampak yang lain adalah kerusakan lingkungan.
Kemudian sekitar tahun 80-an muncul istilah bioteknologi. Bio = biologi, digabung dengan kata teknologi. Namun kemudian yang berkembang pesat adalah yang mengarah ke teknologi yang berhubungan dengan DNA. Sehingga muncul istilah rekayasa genetik (90-an), genetic modified organism, dll. Sama halnya dengan green revolution, hal ini memunculkan dampak kerusakan lingkungan
Artinya berbagai kegiatan manusia yang bertujuan baik untuk mensejahterakan manusia ternyata harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Kalau tidak begitu, maka akan selalu memunculkan kontroversi.
 Beberapa orang kemudian berpikir lagi dan memunculkan istilah ekoteknologi (2010-an). Pada awalnya, ekoteknologi dimaksudkan untuk mengaplikasikan teknologi untuk meningkatkan produktifitas pemanenan sumberdaya, Saat ini ekoteknologi diberi nilai baru, yaitu bagaimana caranya memanfaatkan sumberdaya alam seminimal mungkin untuk hasil yang maksimal. Para penggiat ekoteknologi ini kemudian mengarahkan kampanyenya (via media sosial, web, dll) ke perubahan lifestyle, yaitu gaya hidup untuk mengurangi penggunaan material yang dipanen dari alam secara langsung, penggunaan energi batubara berlebihan, pengembangan teknologi daur ulang, dll
 Peran sentral dari cerita diatas adalah pada penggunaan istilah dan mode kampanye sosialisasinya. Dengan begitu green revolution, biotechnology sampai ke ecotechnology merupakan istilah untuk menerapkan teknologi ke sistem biologi. Artinya, beragam disiplin ilmu biologi dicoba untuk diaplikasikan ke hal-hal yang sebelumnya dianggap bukan ranah biologi. Walaupun dalam ranah biologinya sudah ada istilah-istilah yang dimaksud (misalnya biologi konservasi, biologi lingkungan dll), ternyata istilah tsb kurang atraktif sebagai suatu ide untuk mengajak ke perubahan lifestyle.
 Akibat kampanye yang sangat gencar, maka istilah bioteknologi dan ekoteknologi jauh lebih mudah diterima dan mempunyai nilai lebih di pasar.  Misalnya, kami mencoba menghindari istilah sumberdaya alam yang dianggap mempunyai konotasi ilmu dasar, konservasi dan jadul. Kalo kita mau membuat kegiatan mengandung istilah “sumberdaya alam” maka peluang mendapat dana dan partisipan akan sangat kecil. Bandingkan kalau istilah diubah menjadi “natural resources”. Kalau istilahnya summberdaya alam maka ada di domain kementrian Lingkungan Hidup yang tanpa departemen dan dengan anggaran yang sedikit, Sedangkan kalau “natural resources” ada di domain Kementerian Ekonomi yang dilengkapi dengan banyak departemen teknis dan tentunya dengan anggaran yang lebih dari cukup.
Jadi, ndak usah bingung dengan istilah. Kalo bisa, kita manfaatkan istilah-istilah keren tsb untuk kebaikan kita. Ketimbang masih berkutat dengan “zoologi” mendingan diubah ke “biosains hewan”, atau ketimbang berkutat dengan “konservasi” mendingan “ekoteknologi”.
Semoga dipahami.

No Comment

No comments yet

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.