Kacamata Terapi

T- saya mau tanya mengenai kacamata terapi, apakah benar kacamata terapi dapat menyembuhkan penyakit mata seperti minus dsb?
adakah efek sampingnya?

AFM- Saya baru dengar istilah kacamata terapi ini. Bisa dijelaskan lebih ditil apa yang diterapi menggunakan kacamata ini?
Yang jelas, berbagai distorsi penglihatan bisa diatasi dengan menggunakan kacamata, misalnya kacamata minus, plus, silindris, dll. Kata dokter mata ketika saya mengelak untuk menggunakan kacamata “biarpun distorsinya dikit tetap saja distorsi, jadi bapak sebaiknya menggunakan kacamata!”.

======
T- yang diterapi mata kitanya pak, asal jika dilakukan latihan yg rutin

AFM РOk,  saya mengerti.

Pada saat awal-awal bekerja kami (dalam hal ini Lab Zoologi) bekerja dengan gen penyandi protein opsin yang ada di mata sekitar tahun 1987-an, kami banyak mendapat informasi tentang bagaimana mekanisme kerja mata dan otak. Ada tiga masalah disini. Pertama yang berhubungan dengan kondisi fisik mata yang menyebabkan distrosi penglihatan, yaitu minus, plus dan silindris. Kondisi fisik yang dimaksud adalah jarak lensa-retina, kecembungan lensa dan kekuatan oto-otot mata. Kedua yang berhubungan dengan informasi yang dikirimkan mata ke otak. Dalam hal ini, informasi dari lingkungan akan masuk ke mata kemudian dikirimkan ke otak, Di dalam otak, informasi tadi diolah sedimikian rupa sehingga kita bisa menganggap “telah melihat sesuatu”.
Ketiga, yang berhubungan dengan informasi yang datang dari mata oleh otak akan diasosiasikan atau diintegrasikan dengan berbagai informasi yang lain sehingga menimbulkan efek menenangkan, efek siaga, dan berbagai efek yang lain.

Terapi mata untuk masalah pertama merupakan hal biasanya kalau kita melihat orang menggunakan kacamata.

Terapi untuk masalah kedua saya belum pernah dengar. Yang sering terjadi pada masalah kedua ini adalah proses habituasi (pembiasaan) melihat sesuatu agar otak bisa memperoleh informasi yang diinginkan. Biasanya, hasil pembiasaan ini tidak bertahan lama karena kemudian akan segera ditutupi oleh hasil pembiasaan berikutnya. Contoh gampangnya adalah kalo Mas Andre biasa ada di tempat gelap. Kalo Mas Andre kemudian pergi ke tempat terang maka pada awalnya akan terasa menyilaukan. Setelah terbiasa, maka tempat terang menjadi normal. Contoh yang lain, kalau kita habis naik motor dalam waktu lama yang sisi kiri kanan kita cepat berlalu. Beberapa saat setelah kita parkir, masih ada sisa-sisa penglihatan seakan-akan yang ada di sisi kiri-kanan kita masih bergerak. Kalau mau coba tentang pembiasaan ini, Mas Andre bisa datang ke kantor saya. Kebetulan kami masih punya setting lab-nya (kalo saya pas lagi nyantai ya…).

Nah, terapi untuk masalah ketiga adalah yang paling mungkin. Artinya, seseorang dibiasakan untuk menggunakan kaca mata tertentu untuk mendapat efek tertentu pula. Misalnya, terapi kaca mata bernuansa hijau. Nuansa warna hijau adalah warna yang menyejukkan. Dengan demikian, harapan dari terapi ini adalah agar orang yang mudah gelisah akan menjadi reda gelisahnya. Berbagai terapi nuansa warna ini dulu sekitar tahun 1980-an pernah populer. Efek terapi kacamata ini sama saja dengan efek terapi suara-suara menenangkan, dll.

Kalau benar yang dimaksud pertanyaan Mas Andre adalah terapi kacamata untuk masalah yang ketiga, maka saat ini terapi yang dimaksud sudah tidak populer lagi karena efeknya hanya sementara (lihat lagi penjelasan permasalahan habituasi indera mata). Artinya sama saja dengan kita mengambil waktu libur pergi ke gunung dan melihat keasrian alam pegunungan, hijaunya alam, dll. Setelah terapi selesai atau setelah jalan-jalan selesai maka beberapa saat kemudian efeknya akan hilang karena tertutupi oleh kebiasaan-kebiasaan yang berikutnya. Dalam hal ini, mekanisme kerja otak yang berhubungan sensor penglihatan, suara dan rabaan bersifat plastis (mudah berubah tergantung kebiasaan).

Selama terapi tersebut tidak mengubah mata secara fisik (sebagaimana masalah pertama) maka terapi mata tidak apa-apa. Orang yang mendesain terapi kacamata ini berarti orang yang kreatif (toh tidak berbahaya ini) dan malah bisa membuat orang lain senang. Artinya orang-orang kreatif yang memanfaatkan efek sesaat dari indera mata patut kita dukung untuk menggerakkan perekonomian. Apalagi ada embel-embel harus dilakukan secara rutin.

Salah satu contoh kreatifitas adalah kacamata untuk buta warna. Kalau ada orang butawarna terhadap hijau kemudian menggunakan kacamata untuk menimbulkan warna hijau maka orang tsb akan bisa melihat warna hijau. Tapi ntar dulu, warna komposit dari warna hijau juga akan berubah.

Kalau Mas Andre mau, sebenarnya bisa juga membuat terapi penghilang gelisah dan stress dengan mengkombinasikan terapi kacamata berwarna sambil mendengarkan suara musik orkestra yang lembut dalam ruang yang serba menyejukkan, kemudian dilayani oleh mbak-mbak cantik semampai (untuk pasien cewek oleh mas-mas yang gagah) yang sangat care, penuh perhatian dalam mendengarkan keluhan, dsb. Pasti laku lho, karena saat ini banyak orang stress (termasuk mahasiswa juga). Biar keren beri nama sebagai “Stress Healing Therapies”. Kalau “aroma therapy spa” itu sudah banyak, hehehe.

[note: penyakit mata karena infeksi tidak akan bisa diterapi menggunakan kacamata]

=========

T- Wah bapak bisa aja,
Boleh tuh pak coba setting lab nya yg ada pembiasaan itu. Hemm, kapan ya bpk santainya? Hehe

AFM- nah itu masalahnya, saya selalu nyantai jadi terapinya ndak mempan.

Mas Andre bisa bayangkan suatu bisnis. Semua attendant, office boy/girl sampai ke director semuanya didesain murah senyum, mendengarkan keluhan dengan wajah ramah, selalu ceria, gesit dan cekatan. Apa yang terjadi? kita sebagai pelanggan akan enjoy, senang dan terus-menerus jadi pelanggan. Setelah loyal jadi pelanggan, maka apapun yang ditawarkan oleh bisnis tsb akan cepat laku.
AFM
2011 Des 19

No Comment

No comments yet

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.