kecerdasan, musik klasik, alQuran

Ketika ada mahasiswa bertanya “Pak, apakah benar jika mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan?”

Masalah utama dari pertanyaan itu adalah definisi “kecerdasan”.

Seseorang disebut cerdas pada umumnya karena nilai rapor dan aktif bertanya (di SMA), ditambah dekat dengan guru, centil-centil dikit dan atraktif (SD dan SMP), atau karena nilai IPK dan cepat lulus (di Universitas).

Sampai sekarang, tidak ada definisi baku apa yang dimaksud kecerdasan. Ada yang bilang sebagai tingkat kemampuan bernalar dalam wilayah koginitif (berpikir); ada yang yang bilang sebagai kemampuan beradaptasi (dalam hal ini membutuhkan rangkaian berpikir dan bertindak); ada juga yang bilang sebagai kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa dan juga kemampuan belajar. Karena mendefinisikannya sulit maka beberapa orang membuat spesifikasinya, yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan:

  • pemahaman dan kemampuan verbal,
  • angka dan hitungan,
  • kemampuan visual,
  • daya ingat,
  • Penalaran, dan
  • Kecepatan perseptual

Musik klasik sangat patuh dengan notasi musik yang ada dalam partitur. Akibatnya penggemar musik klasik biasanya orang yang konservatif, mampu membuat pola yang sama dari berbagai kejadian dan bersifat konsisten/istiqomah. Dalam hal ini, siapapun yang bermusik akan menghasal irama yang sama. Bandingkan dengan musik jaz yang bisa menyimpang dari partitur/pakem. Para pemusik jazz tidak pernah patuh ke partitur, seenaknya memodifikasi not-not musik yang ada tetapi masih tetap menghasilkan musik yang indah. Akibatnya, para pemusik jaz punya cirinya tersendiri.

Nah, dengan begitu ada sudut pandang yang bisa kita hubungkan antara musik klasik dan kecerdasan. Bisa jadi, seseorang harus cerdas dulu baru bisa bermain musik klasik. Atau bisa jadi pula, notasi-notasi musik klasik yang teratur dan konsisten mampu membuat seseorang yang awalnya berpikir berantakan menjadi lebih tertata sehingga disebut sebagai orang yang cerdas.

Satu hal yang mungkin bisa menjadi pegangan: musik berada dalam ranah emosi. Beberapa bagian emosi terakit dengan kecerdasan. Lalu, musik yang seperti apa? itulah yang sulit dijawab.

Beberapa hari kemudian di Masjid Alhurriyah IPB, materi khutbah jumat menyinggung-nyinggung kecerdasan ini, yaitu tentang kecerdasan seorang Imam Safii. Salah satu keterangannnya adalah ibu beliau adalah seorang Hafidz. Jadi selama hamil, beliau selalu memperdengarkan bacaan-bacaan mulia secara rutin. Akibatnya Imam Safii sudah terbiasa mendengar bacaan mulia sejak dalam kandungan; dan setelah berumur 7 tahun beliau fasih dan jadi Hafidz juga.

Lalu, benarkah bayi bisa mendengar? Ya, setelah bayi berumur >6 bulan. Setelah organogenesis otak (sekitar bulan ke-4) dan organogenesis indera pendengaran (sekitar bulan ke-6) maka bayi bisa mendengar.

============

note: al Hafidz = sebutan untuk orang yang hafal Quran

No Comment

Comments are closed.