Kenapa ya Kakiku Besar Sekali

Kupandangi terus kakiku yang berukuran 44. Bayangan sepatu cantik di toko sepatu terus berkelebatan di benakku. Kenapa ya kakiku besar sekali. Teman-teman dengan leluasa memilih sepatu karena modelnya. Sedangkan aku, sepatu-sepatu cantik yang banyak dipakai teman-teman di sekolahku ndak bisa kupilih. Pilihanku adalah muat nggak ya sepatu cantik itu ke kakiku. Sedih memikirkan sepatu bermodel cantik sering terbawa mimpi. Kenapa ya kakiku besar sekali.

Ini pasti diwariskan dari bapakku. Kaki beliau berukuran 45. Bapakku bangga dengan kakinya karena selalu dibalut sepatu import berharga mahal. Sepatu lokal yang terpajang di toko sepatu ndak pernah digubris, dilewati begitu saja. Saya tahu kebiasaannya, beliau akan langsung jalan lurus tanpa toleh kiri-kanan ke korner sepatu import. Coba satu dua, kemudian senyum bahagia ada sepatu yang cocok baginya. Beliau kan laki-laki, dan udah bapak-bapak. Kalau aku, kenapa ya kakiku besar sekali.

Sepulang sekolah aku gelisah. Tadi pak guru biologiku membahas pola pewarisan genetika Mendel. Kalo bapak bergolongan darah O dan ibu bergolongan darah B maka anaknya berpeluang bergolongan darah B atau O. Kebetulan bapakku bergolongan darah O, ibuku bergolongan darah B, dan aku serta kedua adikku bergolongan darah B. Jadi kami bertiga analah anak dari bapak dan ibuku. Kebetulan juga pekerjaan bapakku masih berhubungan dengan genetika. Aku terus gelisah menunggu bapakku pulang kantor, mau memprotes kenapa ya kakiku besar sekali.

Belum sempat masuk ke dalam rumah, beliau sudah kuberondong dengan sejuta pertanyaan. Aku kesal ama bapak, kaki bapak menurun ke aku, aku ndak bisa milih sepatu cantik, bapak egois ukuran kakinya diturunkan ke aku, kata hukum Mendel…bla…bla. Seperti biasanya, bapakku kalem saja. Beliau masuk rumah, jalan lurus, naruh tas kantor di meja makan untuk dibereskan oleh ibu, duduk santai di kursi dan mulai membuka sepatunya. Sepintas terlihat beliau mengernyitkan dahi, memandangi kakinya dan terus membuka sepatunya. Aku masih terus berdiri di dekat bapak. Protesku kenapa kakiku besar tak dihiraukan.

Tiba-tiba bapak mendongakkan kepala dan gantian beliau menceramahi aku.
“Nak, kamu beruntung bapak telah menikah dengan ibumu. Lihat kaki ibumu itu yang kecil mungil berukuran 36. Seandainya kaki ibumu berukuran 38 maka kakimu berpeluang lebih besar lagi. Untuk kemudahan aplikasinya, hukum Mendel hanya menggunakan model dominan-resesif pada satu atau dua karakter. Nah kalau ukuran kaki?. Ukuran kaki diatur oleh banyak gen. Ada interaksi antar gen yang mengatur ukuran kaki,…..”
Mulai deh kebiasaan bapakku kalo menerangkan apa-apa ke aku dan adik-adikku. Beliau akan ambil kertas kosong, mencorat-coret sambil terus ngomong tak bisa disela. Sekarang gantian aku yang ndak mudeng. Begitu kesempatan menyela terbuka, kulontarkan pertanyaan “kenapa ya kakiku besar sekali pak?”

Beliau terdiam, tak langsung menjawab pertanyaanku. Beliau berdiri mendekat ke ibuku, kemudian menyandingkan kakinya ke kaki ibuku. “Sini kamu lihat! ukuran kaki bukan masalah dominan-resesif, melainkan ada banyak gen yang terlibat dan saling berinteraksi” Kemudian beliau menggamit tanganku, membalik punggung telapak tanganku dan membawa tanganku berjejer dengan tangan bapak dan ibu”. Iiih… ternyata jariku selentik jari ibu, indah menawan. Kemudian beliau membawa wajahku berjejer dengan wajah ibu dan dihadapkan ke cermin yang ada di dinding lemari makanan. Saya lebih terkejut lagi, ternyata hidungku secantik hidung ibuku, dan alis mataku tersusun lebat dan rapat seperti ibuku. Jadi untung saja secara fisik cuma ukuran kaki yang mirip dengan bapak.

Beberapa hari kemudian, bapak mengenalkanku ke toko sepatu online. Disitu berjejer sepatu-sepatu berukuran besar, cantik beraneka model dan warna. Terima kasih pak, bapak telah menikah dengan ibu. Sejak itu tak ada lagi pertanyaan kenapa ya kakiku besar sekali.

Bogor, Desember 18 2011

No Comment

Comments are closed.