Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB: Surya Fitriana

Surya Fitriana (G34090004), Taruni Sri Prawasti, Achmad Farajallah. 2012. Inventarisasi dan Identifikasi Tungau Ektoparasit pada Cicak di Sekitar Kawasan Industri dan di Luar Kawasan Industri. Makalah Kolokium  Departemen Biologi FMIPA IPB, Bogor 

PENDAHULUAN

Cicak merupakan anggota Famili Gekkonidae, tubuh cicak diselimuti oleh campuran sisik kecil granular dan sisik tuberkal (Rooij 1915). Menurut Prawasti (2011) ada tiga spesies cicak yang dominan dan tersebar secara acak di Indonesia, yaitu Cosymbotus platyurus, Hemidactylus frenatus, dan Hemidactylus garnotii. Rooij (1915) menyatakan bahwa cicak C. platyurus dan H. frenatus menyebar di wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara, sedangkan H. garnotii menyebar di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Ketiga spesies tersebut termasuk jenis cicak rumah. Selain itu, terdapat pula jenis cicak kebun, yaitu Cyrtodactylus halmahericus dan Lepidodactylus lugubris yang menyebar di wilayah Ternate (Mumpuni 2011).

Walter dan Proctor (1999) menyatakan bahwa terdapat interaksi antara cicak dan tungau. Menurut Hirst (1917) dan Lawrence (1936) tungau dari genus Geckobia spesifik menginfestasi cicak (Gekkonidae). Abdussalam (2012); Anggraini (2012); Prawasti (2011); dan Soleha (2006) melaporkan adanya infestasi Geckobia pada beberapa spesies cicak yang tersebar di wilayah Indonesia. Tungau pada cicak diketahui hidup sebagai ektoparasit, yaitu hidup dipermukaan tubuh inang, mencari makan pada kulit, rambut, dan bulu, serta menghisap darah atau cairan tubuh inang (Triplehorn dan Johnson 2005). Tungau tersebut merupakan anggota Famili Pterygosomatidae dengan morfologi tubuh terbagi menjadi gnatosoma dan idiosoma (Krantz 1978). Tungau dewasa umumnya berukuran antara 0,3 hingga 0,5 mm (Zhang 1963). Gerson et al. (2003) mengemukakan bahwa dalam perkembangannya tungau memiliki tiga tahap aktif, yaitu saat larva, deutonimfa, dan dewasa.

Penelitian mengenai tungau ektoparasit pada cicak telah dilakukan di beberapa wilayah Jawa Barat, antara lain Cianjur (Abdussalam 2012), Tangerang (Anggraini 2012), dan Bogor (Soleha 2006). Menurut Jesus et al. (2001) kegiatan manusia dapat menyebabkan cicak berpindah antar lokasi atau pulau. Bekasi merupakan kota yang memiliki aktivitas industri yang tinggi dengan beragam kegiatan manusia didalamnya. Penelitian mengenai pengaruh kehadiran industri terhadap keanekaragaman tungau ektoparasit pada cicak perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan menginventarisasi, mengidentifikasi, dan mempelajari perbedaan intensitas infestasi tungau ektoparasit pada cicak di sekitar kawasan industri dan di luar kawasan industri Kota Bekasi. 

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai dengan bulan Juni 2013. Pengambilan sampel dilakukan di sekitar kawasan industri Tambun dan di luar kawasan industri Kota Bekasi. Identifikasi cicak dan tungau, serta pembuatan preparat tungau dilakukan di Laboratorium Mikroteknik, Bagian Biosistematika dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi, FMIPA IPB. 

Koleksi Cicak dan Tungau Ektoparasit

Sampel cicak diperoleh dengan menangkap secara langsung. Cicak diberi label berdasarkan wilayah penangkapan kemudian diawetkan dalam alkohol 70%. Tungau yang melekat setiap individu cicak yaitu di bagian (a) kepala, (b) telinga, (c) ketiak, (d) badan, (e) paha, (f) ekor, (g) tungkai depan, dan (h) tungkai belakang diambil dengan menggunakan sonde. Jumlah tungau dihitung dan disimpan secara terpisah dalam tube berisi alkohol 70% berdasarkan tempat perlekatan per individu cicak.

Pembuatan Preparat

Pembuatan preparat tungau dilakukan dengan metode sediaan utuh menggunakan media polivinil alkohol. Komposisi media polivinil alkohol antara lain 10 g polivinil alkohol, 60 ml air destilata, 35 ml asam laktat, 25 ml fenol 1% dalam akuades, 10 ml gliserol, dan 100 g kloral hidrat. Tungau yang telah diawetkan dalam alkohol 70% diletakkan di atas gelas objek kemudian ditetesi dengan media polivinil alkohol dan ditutup dengan gelas penutup. Preparat dikeringkan pada hot plate dengan suhu 40oC selama satu minggu (Zhang 1963).

Identifikasi Cicak dan Tungau Ektoparasit

Cicak diidentifikasi menggunakan kunci determinasi Rooij (1915), sedangkan identifikasi tungau menggunakan kunci determinasi Krantz (1978) hingga tingkat famili dan Lawrence (1936) hingga tingkat genus dan spesies.

Analisis Data

Analisis jumlah tungau pada tubuh cicak dilakukan dengan menghitung nilai prevalensi (P), intensitas infestasi (I) dan intensitas total (It) (Barton & Richards 1996). Nilai prevalensi adalah presentase cicak yang terinfestasi tungau. Intensitas infestasi adalah rata-rata jumlah tungau spesies (i) yang menginfestasi setiap individu cicak. Intensitas infestasi total adalah jumlah total tungau yang menginfestasi per individu cicak.

       

RENCANA PENELITIAN

Kegiatan

Bulan ke-

1

2

3

4

5

6

Studi Literatur            
Pengambilan Sampel Cicak di Lapangan            
Identifikasi Cicak            
Pembuatan Preparat  Tungau            
Identifikasi Tungau            
Analisis Data            
Penyusunan laporan            

DAFTAR PUSTAKA

Abdussalam RA. 2012. Inventarisasi dan identifikasi tungau ektoparasit pada cicak di Kabupaten Cianjur [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Anggraini S. 2012. Inventarisasi dan identifikasi tungau ektoparasit pada cicak di perumahan dan pasar Kota Tangerang [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Barton DP, Richards SJ. 1996. Helminth infracommunities in Litoria genima-culata (Amphibia:

Anura) from Birthday Crek, an upland rainforest stream in Northern Queensland, Australia. Int J Parasitol 26:1381-1385.

Gerson U, Smiley RL, Ochoa R. 2003. Mites (Acari) for Pest Control. UK: Black-well Science Ltd.

Hirst AS. 1917. On some new mites of the suborder Prostigmata living on lizards. Ann Mag Nat Hist 19:136-143.

 

Jesus J, Brehm A, Pinheiro M, Harris DJ. 2001. Relationships of Hemidactylus (Reptilia: Gekkonidae)

from the Cape Verde Islands: What mitochondrial DNA data indicate. J Herpetol 35:672-675.

Krantz GW. 1978. A Manual of Acarology. Ed. ke-2. Covallis: Oregon University.

Lawrence R.F. 1936. The prostigmatic mites of South African lizard. Parasitology 28:1-39.

Mumpuni. 2011. Keanekaragaman herpetofauna di pulau ternate dan moti maluku utara. J Puslit Biologi-LIPI :105-120.

Prawasti TS. 2011. Distribusi dan keanekaragaman tungau ektoparasit pada cicak di Indonesia [tesis].   Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Rooij N de. 1915. The Reptiles of The Indo-Australian Archipelago. I. Lacertilia, Chelonia, Emydosauria. Leiden, E.J. Brili, Ltd.

Soleha I. 2006.  Inventarisasi dan identifikasi tungau ektoparasit pada cicak di Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Triplehorn CA, Johnson NF. 2005. Borror and Delong’s Introduction to the Study of Insect. Ed. 7. Belmont: Thomson Brooks/Cole.

 

Walter, Proctor HC. 1999. Mites: Ecology, Evolution and Behaviour. Australia: UNSW.

Zhang ZQ. 1963. Mites of Greenhouses: Identification, Biology and Control. Wallingford: CABI Publishing.

No Comment

No comments yet

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.