Kolokium Elly Widyas Ningsih G34100114

Elly Widyas Ningsih (G34100114), Achmad Farajallah, Sulistijorini. 2013. Analisis Vegetasi Padang Penggembalaan Domba terhadap Infestasi Cacing pada Domba di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kolokium Departemen Biologi FMIPA IPB, 28 November 2013

 

PENDAHULUAN

Domba (Ovis aries; Bovidae) di Pulau Jawa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu domba ekor tipis (DET) atau domba lokal, domba ekor gemuk (DEG), dan domba Priangan atau domba Garut (Mason 1980; Adjisoedarmo et al. 1984). Domba merupakan sumber protein penting di Indonesia sekelas sapi dan ayam. Hal tersebut terlihat dari jumlah populasi ternak domba pada tahun 2012 mencapai 13,4 juta ekor, dengan populasi terbesar di Jawa Barat mencapai lebih dari 8 juta ekor (Direktorat Jenderal Peternakan 2012). Sebagaimana ternak lainnya di daerah tropis basah, dalam saluran pencernaan domba bisa ditemukan beragam jenis cacing. Cacing parasit bisa menghambat pertumbuhan domba dan pada kondisi tertentu akan menyebabkan kematian. Beberapa jenis cacing yang diketahui menginfeksi saluran pencernaan domba adalah Capillaria sp., Trichuris sp., Strongyloides papillosus, Skrajabinema sp., Dicrocoelium dendriticum, Nematodirus sp., Fasciola hepatica, Protostrongylus sp., Dictyocaulus filaria, Moniezia expansa, Thysanosoma actinoides, dan Muellerius capillaris (Zajac dan Conboy 2012).

Salah satu faktor yang mempengaruhi infestasi cacing pada domba ialah pakan. Domba di peternakan rakyat Kecamatan Jati Tujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat dipelihara dengan cara digembalakan. Pada musim kemarau, domba biasanya digembalakan di sawah, sedangkan apabila musim tanam padi tiba, domba digembalakan di kebun tebu milik salah satu perusahaan gula. Ternak domba tersebut hanya mengkonsumsi pakan hijauan alami. Menurut Fachrul (2007), masyarakat tumbuhan yang terbentuk oleh berbagai populasi jenis tumbuhan yang terdapat di dalam satu wilayah atau ekosistem serta memiliki variasi pada setiap kondisi tertentu disebut vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komposisi jenis tumbuhan pada suatu padang gembalaan dengan keberadaan cacing pada domba di peternakan rakyat Kecamatan Jati Tujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

 

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 sampai dengan bulan Maret 2014 di padang penggembalaan domba di Kecamatan Jati Tujuh, Kabupaten Majalengka dan bagian Fungsi Hayati dan Perilaku Hewan Departemen Biologi, FMIPA IPB.

 

Metode

Tingkat infestasi cacing pada domba akan dilakukan dengan menghitung jumlah telur cacing yang ada di feses (FEC, Faecal Egg Counting). Domba tergolong infeksi ringan apabila jumlah telur cacing berkisar 5-500 buah/g; sedang 500-2000 buah/g; dan berat diatas 2000 buah/g.

Pengambilan Sampel Feses. Feses diambil dengan cara faecal swapped from anus. Kisaran umur domba ditentukan dengan metode judging dan bertanya kepada penggembala.

Preparasi Sampel. Sampel dipreparasi dengan dua cara, yaitu dengan metode pengapungan dan sedimentasi.

Pengapungan. Sebanyak 2 gram feses digerus dan ditambahkan garam jenuh sebanyak 60 mL, dihomogenisasi, dan didiamkan selama 5 menit. Cairan yang berada di permukaan diambil menggunakan pipet tetes, dan diletakkan di atas gelas objek (modifikasi McMaster) (Whitlock 1948) lalu diamati di mikroskop.

Sedimentasi. Sebanyak 10 mL formalin 10% ditambahkan pada sekitar 1 gram feses, kemudian diaduk sampai homogen. Campuran kemudian disaring dengan kain kasa dan dimasukkan ke dalam tabung hingga volume mencapai 7 mL. Lalu ditambahkan etil asetat sebanyak 3 mL dan disentrifuse selama 1 menit dengan kecepatan 2700 rpm. Campuran dipindahkan kembali ke dalam tabung sentrifuse lain dan disentrifuse selama 1 menit dengan kecepatan rendah. Bagian sedimen diambil dan diletakkan di atas gelas objek, lalu diamati di mikroskop.

Identifikasi Telur. Telur yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan Zajac dan Conboy (2012) dan Soulsby (1982).

Analisis Vegetasi. Analisis dilakukan dengan membuat plot berukuran 2 x 2 meter, minimal sebanyak 6 plot. Plot tersebut ditentukan dengan mengikuti jelajah domba selama kurang lebih 3 jam. Setiap plot dilakukan inventarisasi jenis dan jumlah tumbuhan. Selain itu beberapa kondisi lingkungan mikro akan direkam. Tumbuhan dijadikan herbarium untuk memudahkan identifikasi. Tumbuhan yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan Van Steenis (1988). Pengukuran iklim mikro dilakukan menggunakan alat 4 in 1 climate detector.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adjisoedarmo S, Purnomo B, Marmono EA. 1984. Analisa genetik karakteristik pertumbuhan sebelum disapih domba bercak hitam Jawa Tengah. Pertemuan Ilmiah Penelitian   Ruminansia Kecil = Mtg; 1983 Nov 22-23; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Hlm 163-166.

[Ditjenak] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2013. Statistik Peternakan dan      Kesehatan Hewan 2013. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan   Hewan Kementerian Pertanian RI.

Fachrul MF. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta (ID): Bumi Aksara.

Mason IL. 1980. Prolific Tropical Sheep. Rome (IT): Agriculture Organization of United       Nations.

Soulsby EJL. 1982. Helminths, Arthropods, and Protozoa of Domesticated Animals (Mönnig).    Ed ke-7. New York (US) and London (GB): Academic Press.

Van Steenis CGGJ. 1998. Flora: untuk sekolah di Indonesia. Surjowinoto M, penerjemah. Jakarta (ID): PT Pradnya Paramita.

Whitlock HV. 1948. Some modifications of the McMaster helminth egg counting technique and       apparatus. J Counc Sci Ind Res. 21:177-180.

Zajac AM, Conboy GA. 2012. Veterinary Clinical Parasitology. Ed ke-8. Oxford (GB): John   Wiley & Sons, Inc.

No Comment

No comments yet

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.