Reptil 2: Sejarah Eksploitasi Reptil

Hubungan antara berbagai suku bangsa dengan jenis-jenis reptil yang ada di lingkungannya telah berlansung lama. Hubungan itu kemudian masuk ke dalam tata kehidupan bermasyarakat, dimasukkan ke dalam bagian adat istiadat sehari-hari. Beberapa spesies reptil mendapat tempat terhormat sebagai hewan yang dihormati sekaligus ditakuti (ular), penjaga keabadian (kura-kura), hewan suci/turunan dewa (kura-kura), atau sebagai bahan obat tradisional (sebagian besar reptil). Hubungan antara hewan dan manusia kemudian dipelajari tersendiri sebagai ilmu etnozoologi.

Sejalan dengan waktu, beberapa kelompok masyarakat yang bermukim di pinggiran hutan mulai masuk ke wilayah-wilayah hutan yang sebelumnya tidak pernah dimasuki. Semakin lama, mereka masuk ke wilayah hutan semakin dalam. Bersamaan dengan itu, berbagai spesies reptil dengan corak penampilan yang beragam di seluruh pelosok dunia mulai ditemukan, dideskripsikan dan dipelajari. Mode komunikasi yang semakin luas dan perdagangan global menyebabkan penyebaran pengetahuan tentang jenis-jenis reptil tersebut semakin meluas, dan beberapa diantaranya melampaui batas daerah penyebarannya, terutama di daerah perkotaan. Akibatnya beberapa spesies reptil mulai dilirik dan diperhitungkan sebagai sebagai komoditi perdagangan yang bernilai ekonomis tinggi. Ular dan buaya telah lama sekali dieksploitasi untuk diambil kulitnya yang bercorak indah, dan beberapa jenis reptil lainnya diambil sekedarnya untuk bahan obat tradisional, sumber makanan dan untuk keperluan adat istiadat. Dalam dekade terakhir ini kita bisa dengan mudah menemukan berbagai spesies reptil yang dijadikan sebagai hewan piaraan eksotik (pet). Setiap penggunaan itu memerlukan spesifikasi reptil yang sangat beragam dan berfluktuasi, baik dari sisi jenis, umur dan pola warna.

Perkembangan eksploitasi reptil di berbagai belahan dunia (terutama di negara-negara yang sedang berkembang) yang sangat dahsyat terjadi sejak pasar Cina terbuka yang diikuti dengan berbagai kemudahan nilai tukar mata uangnya. Secara tradisional suku bangsa Cina menggunakan berbagai spesies reptil (terutama kura-kura) sebagai makanan tradisional yang dipercaya secara turun temurun berkhasiat obat. Komisi perdagangan dunia kemudian turun tangan untuk mencegah penurunan populasi berbagai spesies reptil dengan cara membatasi import Cina, membuat regulasi/batasan jumlah yang diperdagangkan (kuota), melakukan penyuluhan dan menggalakkan breeding terhadap jenis-jenis yang populer.

Sebagai hewan piaraan, kelompok ular, kadal dan kura-kura mengalami booming sekitar sepuluh tahun terakhir ini. Sebagaimana perdagangan reptil dengan Cina, penangkapan reptil dari alam liar dan kerusakan habitat akibat ekspansi aktifitas manusia telah menyebabkan penurunan populasinya di alam. Hal ini tampak dari semakin sulitnya menemukan reptil yang populer sebagai komoditi perdagangan di alam liar. Semakin lama perburuan reptil merambah terus ke hutan-hutan yang lebih dalam. Walaupun masih tidak imbang, beberapa lembaga maupun perseorangan berusaha untuk memulai melakukan penangkaran dan breeding. Percobaan-percobaan yang bersifat teknis banyak dilakukan untuk mendapatkan kondisi penangkaran dan breeding yang lebih baik.

Eksploitasi dari alam liar yang tak terkendali terjadi di Indonesia sejak terjadinya krisis moneter. Walaupun ada peraturan pemerintah RI yang menyatakan bahwa satwa liar yang boleh diperdagangkan adalah yang dari penangkaran (yaitu F2 dari induk liar), beberapa kelompok masyarakat masih terus melakukan perburuan dari alam liar yang hasilnya kemudian diselundupkan. Kalau hal ini dibiarkan terus, potensi alam kaya raya Indonesia akan habis tak tersisa untuk anak cucu. Di lain pihak, permintaan pasar terus meningkat dengan iming-iming harga yang terus menaik. Penyelundupan kura-kura, ular dan buaya sering dijadikan berita dalam surat kabar. Pada titik ini sebenarnya muncul peluang bagi kita untuk memulai melakukan penangkaran dan breeding.

No Comment

Comments are closed.