Reptil 5: Cara Hidup Reptil

Beberapa anggota kelompok hewan reptil mempunyai garis evolusi yang berbeda-beda. Walaupun semuanya dilengkapi dengan sisik  dari zat tanduk dan berdarah dingin, berbagai jenis reptil mempunyai cara hidup yang berbeda-beda. Berdarah dingin bisa diasosiasikan dengan laju metabolisme rendah. Hal ini berarti sebagian besar reptil tidak terlalu banyak membutuhkan makanan, bergerak lambat dan sangat tergantung ke suhu lingkungan.

Berdasarkan tempat hidupnya, reptil bisa dibagi menjadi

  1. arboreal: hidup di pepohonan dan kadang turun ke tanah. Misalnya tokek dan cicak
  2. teresterial: sebagian besar hidup di darat. Misalnya kadal kebun
  3. semiakuatik: hidup di air dan darat. Misalnya beberapa spesies kura-kura dan buaya
  4. akuatik penuh: sebagian besar hidupnya di dalam air. Misalnya labi-labi atau bulus.

Berdasarkan makanan yang dimakan:

  1. karnivora: makanan utamanya adalah daging
  2. herbivora/vegetarian: makanan utamanya bagian-bagian tanaman
  3. omnivora: bisa makan apa saja

Tergantung pada teknik pemeliharaan, pembagian diatas tidak seluruhnya bisa diterapkan untuk satu jenis. Kadang sewaktu kecil herbivora kemudian setelah dewasa berubah menjadi karnivora atau sebaliknya.

Berdasarkan perilaku dan adaptasinya:

  1. menggali tanah,
  2. membenamkan diri di lumpur, bersembunyi di celah-celah gelap atau menyeruak semak-semak/serasah,
  3. meletakkan telur di atas tanah, menggali tanah atau membuat sarang,
  4. menyukai tempat lembab, kering, bercahaya terang atau gelap, dsb

Berkenaan dengan perilaku dan adaptasinya, para pecinta reptil lebih menyukai memelihara bayi reptil. Jika reptil sering didekati dan disentuh sejak bayi maka peluang untuk menjadi jinak jauh lebih besar dibanding kalau sudah dewasa. Selain masalah penjinakan, beberapa orang lebih menyukai memelihara bayi reptil karena bentuk tubuhnya yang mulus dengan pola warna cerah dan “lucu”. Karakter lucu sebenarnya melekat ke setiap bayi dari berbagai hewan akibat hukum alometri.

Berbagai pola hidup diatas perlu diketahui secara ditil untuk merancang model terarium (kandang untuk reptilia). Misalnya untuk yang arboreal sebaiknya terarium berbentuk persegi panjang dengan sisi tinggi lebih dari dua kali lipat sisi panjang. Sedangkan untuk yang semiakuaik perlu dibuatkan bagian kandang yang berisi air dan bagian kandang yang berisi tanah atau ke atas air di beri floating. Jika ternyata reptilnya bersifat herbivora tetapi diberi pakan dengan pakan berprotein tinggi maka lama kelamaan ginjalnya akan rusak. Hal ini biasanya ditandai dengan pola pertumbuhan abnormal atau stres. Jika tidak ada informasi pakan alami bagi reptil yang akan dipelihara sebaiknya pakan diberikan dalam berbagai jenis dan bentuk sambil terus dipelajari pakan apa saja yang disukai dan yangn tidak disukai. Keberhasilan mengakomodasi cara hidup reptil yang mendekati cara hidup di alam liarnya biasanya ditunjukkan dengan keberhasilan reptil bertelur dengan kondisi telur yang baik dan fertil.

Perilaku diatas juga diperlukan untuk mengkombinasikan berbagai spesies reptil dalam satu terarium tanpa sekat dan untuk mendesain ornamen terarium. Pengamatan yang intensif harus dilakukan pada saat reptil pertama kali menghuni terarium. Paling tidak ada dua jenis terarium, yaitu indoor dan outdoor. Terarium indoor biasanya berupa akuarium dengan berbagai ukuran, dimensi panjang dan lebar dan tipe substrat. Sedangkan terarium outdoor sangat fleksibel yang mencontoh suasana hutan (semak, pohon), ada bagian basahnya (berupa kolam atau selokan) dan ada bagian keringnya (substrat lunak, tanah, dan/atau pasir).

No Comment

Comments are closed.