Seminar Sarah Nila G34062969

Sarah Nila, Achmad Farajallah, dan Taruni Sri Prawasti. 2011.  Infeksi Cacing pada Domba Ekor Tipis dari Rumah Pemotongan Domba Rakyat Bogor. Seminar disampaikan tanggal 14 April 2011. Departemen Biologi FMIPA IPB

 

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Domba yang berada di pulau Jawa dibedakan menjadi Domba Ekor Gemuk dan Domba Ekor Tipis (Priangan). Domba Priangan dibagi dalam dua galur berdasarkan lokasi geografinya yaitu galur Bogor dan galur Garut. Domba yang dipelihara oleh masyarakat Bogor dan sekitarnya termasuk domba ekor tipis yang memiliki jaringan lemak yang berada dipangkal ekor lebih sedikit, memiliki tanduk berukuran sedang dengan posisi agak menggantung pada domba jantan, dan memiliki warna bulu yang bervariasi (putih, putih-cokelat, atau putih-hitam) (Mason 1978; Obst et al. 1980). Sedangkan domba hasil penelitian Herman (1988) di Jawa Timur termasuk kelompok domba ekor gemuk. Penyakit parasit merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat menyerang domba dan biasanya tidak mengakibatkan kematian, namun menyebabkan kerugian berupa penurunan kondisi badan dan daya produktivitas yang sangat besar (Mukhlis 1985). Cacing merupakan salah satu parasit pada domba yang hidup di dalam atau di luar tubuh inang yang bersifat merugikan. Kerugian akibat parasit pada domba mencakup pertumbuhan yang terhambat, penurunan berat badan, penurunan daya kerja dan reproduksi. Kerugian itu berlangsung melalui beberapa cara, yaitu menghisap sari makanan yang sangat diperlukan oleh inang dan menimbulkan penyumbatan usus halus, saluran empedu dan pembuluh darah akibat berkumpulnya cacing dalam jumlah besar (Kusumamihardja 1982).

Kerusakan patologis pada inang yang terjadi akibat infeksi cacing tergantung pada patogenitas cacing, derajat infeksi, habitat parasit, dan kondisi kekebalan inang serta campur tangan manusia. Keberadaan cacing dalam tubuh inang dapat diketahui melalui pemeriksaan feses. Pemeriksaan secara kualitatif bertujuan untuk mendeteksi telur cacing sedangkan secara kuantitatif untuk menghitung jumlah telur cacing dalam satu gram feses. Metode yang dapat digunakan antara lain metode sederhana, metode pengapungan, dan metode sedimentasi (Malek 1980). Telur cacing biasanya keluar bersama feses inang dan berkembang di lingkungan akuatik. Apabila inang (domba, kambing, sapi, dan sebagainya) memakan rumput atau meminum air yang mengandung larva cacing (metaserkaria) di lingkungan akuatik tersebut, akan terinfeksi (Soulsby 1968).

 

Tujuan

Menghitung dan mengidentifikasi telur cacing dari feses domba ekor tipis yang dipotong di rumah pemotongan domba rakyat Bogor.

 

Waktu dan Tempat

Penelitian telah dilaksanakan dari bulan April sampai dengan November 2010 di laboratorium Biosistematika dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor.

 

BAHAN DAN METODE

Metode

Pengambilan sampel

Pengambilan sampel feses dilakukan di lokasi pemotongan domba/kambing rakyat, Empang, Bogor. Feses diambil langsung dari anus domba, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik berlabel. Pengamatan dilakukan di laboratorium.

Preparasi Sampel

Feses sebanyak 5 gram digerus dan disuspensikan dalam air sambil diaduk, kemudian disaring menggunakan saringan berukuran 370 µm. Hasil saringan diencerkan dengan air 200 ml dan diendapkan. Supernatan dibuang dan endapan yang diperoleh disuspensikan dengan air sampai 200 ml, lalu diaduk dan diendapkan kembali. Hal ini dilakukan beberapa kali sehingga diperoleh endapan jernih.

Uji Keberadaan Telur

Edapan hasil preparasi diambil sebanyak 0,05 ml dan diletakkan di atas gelas objek (McMaster Modified). Preparat ditutup dengan kaca penutup berukuran 60 x 24 mm. Selanjutnya jumlah telur dihitung dan diamati bentuknya.

Analisis Data

Telur-telur yang diperoleh dari berbagai tipe dihitung jumlah telur per gram feses dengan menggunakan rumus :

Identifikasi Telur

Telur yang diperoleh termasuk kedalam 6 famili berdasarkan Soulsby (1982).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat Infestasi Telur Cacing

Sebanyak 18 sampel dari total 36 sampel feses yang diperoleh telah terinfeksi telur cacing. Menurut Handoko & Henderson (1981), besarnya jumlah telur dalam setiap gram feses sebanding dengan jumlah cacing dewasa yang terdapat di dalam saluran pencernaan, yang berhubungan dengan tingkat infeksi cacing parasit. Kusumamihardja (1982) menyatakan bahwa masuknya larva cacing ke dalam tubuh bersamaan dengan masuknya makanan akan menimbulkan gangguan disebut sebagai infeksi. Infeksi yang terjadi dibedakan berdasarkan jenis kelamin dan jenis infeksi (Tabel 1). Domba yang terinfeksi oleh satu jenis telur disebut single infection, dan yang terinfeksi oleh lebih dari satu jenis telur disebut double infection. Infeksi yang terjadi pada domba dapat dipengaruhi oleh kondisi peternakan, jumlah ternak dalam satu kandang, makanan yang diberikan, dan daya tahan tubuh ternak (kekebalan) terhadap penyakit (Boky & Suhardono 2006). Ternak ruminansia yang telah dewasa atau sudah mengalami infeksi cacing dewasa di dalam saluran pencernaan, biasanya kebal terhadap infeksi yang baru (Asanji 1988).

 

Tabel 1 Infeksi pada domba berdasarkan jenis kelamin dan jenis infeksi

Domba Jumlah (ekor) Terinfeksi (%) Single infection (%) Double infection (%) Rata-rata telur/gr feses (buah/gr)
Betina 34 50 76,190 23,81 900
Jantan 2 100 50,00 50,00 750

Identifikasi Telur Cacing

Berdasarkan hasil identifikasi, telur cacing yang ditemukan dari 18 sampel feses termasuk ke dalam 6 famili, yaitu famili Schistosomatidae, Poche 1907, famili Anoplocephalidae, Blanchard 1981, famili Ascarididae, Baird 1853, famili Trichuridae, Raillet 1915, famili Capillariidae, Neveu-Lemaire 1936, dan famili Trichostongylidae, Leiper 1912 (Gambar 1). Nilai presentase telur cacing pada setiap famili dapat diketahui dari rata-rata jumlah telur cacing/tipe telur pada 2x ulangan yang dibagi dengan total sampel feses. Presentase telur cacing tertinggi ialah pada famili Trichostrongylidae (41,38%), kemudian famili Capillariidae (37,93%). Sedangkan presentase terendah ialah famili Schistosoma dan Ascarididae yang masing-masing sebesar 3,45%, dan hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.

 

Gambar 1 Hasil identifikasi telur cacing (a) famili Schistosomatidae, (b) famili Anoplocephalidae, (c) famili Ascarididae, (d) famili Trichuridae, (e) famili Capillariidae, (f), (g) dan (h) famili Trichostrongylidae.

 

Tabel 2 Jumlah rata-rata telur pada setiap tipe telur

Famili Ulangan 1 (buah) Ulangan 2 (buah) Rata-rata (buah) Presentase (%) Keterangan Gambar
Schistosomatidae 1 0 0,50 3,45 1.a
Anoplocephalidae 2 0 1,00 6,90 1.b
Ascarididae 1 0 0,50 3,45 1.c
Trichuriidae 0 2 1,00 6,90 1.d
Capillariidae 6 5 5,50 37,93 1.e
Trichostrongylidae 7 5 6,00 41,38 1.f, 1.g, 1.h
Jumlah 17 12 14,50 100

 

Total Telur per Gram Feses (TTGF)

Banyaknya cacing dewasa di dalam tubuh ternak disebut dengan derajat infeksi (Tarazona 1987). Secara keseluruhan, derajat infeksi rata-rata yang didapatkan sebesar 892 buah/gram. Total telur terendah adalah 0 (nol) dan yang terbanyak adalah 7 500 buah/gram. Apabila dibedakan berdasarkan jenis kelamin, derajat infeksi rata-rata pada domba betina sebesar 900 buah/gram, sedangkan pada domba jantan sebesar 750 buah/gram (Tabel 1). Tarazona (1987) menyatakan bahwa derajat infeksi cacing pada domba dapat digolongkan menjadi 3 yaitu, (1) tingkat infeksi ringan dimana jumlah TTGF antara 50-500 buah/gram, (2) tingkat infeksi sedang, yaitu jumlah TTGF berkisar antara 50-2 000 buah/gram, dan (3) tingkat infeksi berat jika jumlah TTGF >2 000 buah/gram. Derajat infeksi yang didapatkan dari hasil percobaan termasuk ke dalam kelompok infeksi sedang, baik pada domba jantan maupun domba betina. Menurut Barger (1993), jumlah telur cacing dalam satu gram feses tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, walaupun dimba betina memiliki nilai TTGF yang lebih tinggi dibandingkan dengan domba jantan.

Populasi larva cacing pada rumput saat musim hujan lebih tinggi daripada populasi larva cacing di musim kemarau (Kusumamihardja 1982; Brotowidjoyo 1987) karena curah hujan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi translokasi larva dari pelet feses ke padang rumput (Levine & Anderson 1973; Rossanigo & Gruner 1995). Perbedaan musiman pada ketersediaan larva infektif di padang rumput mungkin karena perbedaan antara musim dalam pengembangan larva di pelet feses, translokasi larva infektif ke padang rumput, atau kelangsungan hidup larva infektif di padang rumput (Boag & Thomas 1985). Namun di daerah curah hujan tinggi seperti Bogor dan sekitarnya dimana musim kemarau pendek, tidak ada perubahan musiman dalam pola jumlah telur cacing (Beriajaya & Copeman 1997). Hal ini dapat terlihat pada hasil yang didapatkan dari bulan Juni sampai bulan September, yakni tidak ada kenaikan atau penurunan jumlah telur yang signifikan (Gambar 2).

Gambar 2 Perbedaan jumlah TTGT per-bulan.

SIMPULAN

Presentase domba yang terinfeksi telur cacing sebesar 50% pada domba betina dan 100% pada domba jantan. Ditemukan adanya 6 famili hasil identifikasi telur cacing tersebut. Tingkat infeksi telur cacing pada domba tidak dipengaruhi oleh musim hujan atau pun kemarau.

DAFTAR PUSTAKA

Asanji MF. 1988. Haemonchus in Sheep and Goats in Siera Leone. J Helminthol 62 : 243-249.

Beriajaya, Copeman DB. 1997. An Estimate of Seasonality and Intensity of Infection with Gastrointestinal Nematodes in Sheep and Goats in West Java. JITV 2 : 270-276.

Boky JT, Suhardono. 2006. Pengaruh Infeksi Fasciola gigantica (Cacing Hati) Iradiasi terhadap Gambaran Darah Kambing (Capra hircus Linn.). JITV : 11.

Boag B, Thomas RJ. 1985. The Effect of Temperature on The Survavial of Infective Larvae of Nematodes. J Parasitol 71 : 383-384.

Brotowidjoyo MD. 1987. Parasit dan Parasitisme edisi 1. Jakarta : Media Sarana Press.

Handoko NS, Henderson AK. 1981. Helminthiasis dan Pengaruhnya pada Gambaran Domba Ekor Gemuk di Kabupaten DT II Bogor. Bul LPPH 12 (21) : 19-26.

Herman R. 1988. Kualitas Karkas Domba Lokal Hasil Penggemukan. Prosiding Pertemuan Ilmiah Ruminansia. Bogor : Puslitbang Peternakan. hlm 228-233

Kusumamihardja S. 1992. Parasit dan Parasitologi pada Hewan Ternak dan Piaraan di Indonesia. Bogor : Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor.

Levine ND, Anderson FL. 1973. Development and Survavial of Trichostrongylus colubiformis on Pasture. J Parasitol 59: 147-165.

Malek E. 1980. Snail-Transmitter Disease volume 2. Florida : CRC Press Inc.

Mason IL. 1978. Sheep in Java. World Animal Production 27 : 17-22.

Mukhlis A. 1985. Identifikasi Cacing Hati (Fasciola sp.) dan Daur Hidupnya di Indonesia. Disertasi Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Obst JM, Chaniago, Boyes T. 1980. Survey Of Sheep and Goats Slaughtered at Bogor, West Java, Indonesia. Centre Report, no. 10. Centre for Research and Development, Bogor.

Rossanigo CE, Gruner L. 1985. Moisture and Temperature Requirements in Faeces for The Development of Free-Living Stages of Gastrointestinal Nematodes of Sheep, Cattle and Deer. J Helmithol 69 : 357-362.

Soulsby EJL. 1968. Helminths, Arthropods, and Protozoa of Domesticated Animals (Mönnig) 6th Edition. London : Williams and Wilkins Baltimore.

Soulsby EJL. 1982. Helminths, Arthopods, and Protozoa of Domesticated Animals 7th Edition. New York and London : Academic Press.

Tarazona JM. 1987. A Methode for Interpretation for Parasite Egg Count of Faeces of Sheep. Veterinary Bull : 57.

 

No Comment

Comments are closed.