Siebenrockiella Lindholm, 1929

Genus ini diwakili oleh hanya satu spesies, yaitu Siebenrockiella crassicollis (Gray, 1831b).

Pengenalan

Karapas lonjong, pipih, berlunas tiga (karapas sampai 20 cm) dan tepi posterior sangat bergerigi, warna keseluruhan hitam-coklat atau hitam. Karapas lebih lebar di belakang tengah. Lunas median selalu kelihatan, tetapi dua lunas lateral kurang kelihatan pada individu besar. Vertebral kura-kura dewasa rata bagian dorsalnya dan 4 pertama biasanya lebih lebar anteriornya dan menyempit di posterior, tetapi vertebral ke-5 lebih lebar posterior dibanding anteriornya. Pada dasarnya tulang neural tidak memanjang dan lebih pendek di anterior; sedangkan di tengah jajaran neural hampir selalu persegi. Plastron berkembang dengan baik, tanpa engsel, dan sambungan ke karapas sangat ekstensif. Tepi posterior anal bertakik, dan tepi lateral berlunas rendah setidaknya sampai sejauh posterior femoral. Lipatan humero-pektoral memotong entoplastron. Formula plastron adalah abd>pec>fem> an>gul>hum. Luas jembatan kira-kira sama panjang dengan lobus posterior plastron, penopang berkembang baik; penopang aksilar menempel ke bagian tengah sepanjang kostal pertama dan penopang inguinal menempel ke sepertiga sambungan antara kostal ke-5 dan ke-6. Sisik aksilar dan inguinal berukuran sedang sampai besar. Warna jembatan dan plastron beragam mulai dari hitam rata atau coklat gelap sampai ke coklat kekuningan dengan spot hitam atau suatu pola hitam yang ekstensif mengikuti lipatan. Kepala besar, agak melebar dan pendek, moncong sedikit mencuat. Pada tengkorak, quadratojugal bersinggungan dengan jugal dan postorbital, dan foramen palatine posterior agak lebih besar dibanding foramen orbito-nasal yang kecil. Bagian median rahang atas bertakik, sempit, dan permukaan penggerusnya rata. Kepala hitam sampai abu-abu gelap dengan bercak-bercak berbayang putih, krem atau spot kuning di belakang kedua orbit, dan rahang berwarna krem sampai coklat. Posterior kepala ditutupi oleh sisik-sisik kecil, dan garis sempit dari sisik-sisik granular kecil terdapat di antara orbit dan tympanum. Leher yang gemuk berwarna hitam atau abu-abu gelap, membuat kepala kelihatan pendek. Anggota tubuh dan ekor berwarna abu-abu gelap sampai hitam. Jari-jari berselaput, dan sisi anterior kaki depan ditutupi oleh sisik-sisik besar transversal.

Killibrew (1977a) melaporkan kariotip diploid adalah 52, tetapi Stock (1972) dan Bickham dan Baker (1976a) sebelumnya menemukan 50. Bickham dan Baker (1976a) juga melaporkan bahwa dari satu individu yang diuji adalah heterosigot yang diduga inversi presentrik. Telaah lebih lanjut oleh Carr dan Bickham (1981) mengkomfirmasikan heteromorfisme pada pasangan macrochromosome pada jantan, yang mana mereka dalam sistem penentuan seks diinterpretasikan sebagai XX/XY, merupakan penemuan pertama dalam Emydidae dan hanya beberapa sistem dalam kura-kura selain yang telah ditemukan pada kinosternid genus Staurotypus.

Jantan mempunyai plastron agak cekung dan tebal dengan ekor panjang dibanding pada betina yang plastronnya datar. Betina masih menyisakan spot putih di belakang mata, sedangkan pada jantan sudah memudar.

Penyebaran

Kura-kura ini sangat dikenal mulai dari Vietnam ke arah barat melewati Thailand sampai Tenasserim, Birma, dan ke arah selatan melewati Malaya sampai Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Habitat

S. crassicollis hidup di perairan beraliran tenang, berdasar lembut dan pada perairan dengan vegetasi yang melimpah; aliran dangkal, sungai-sungai, danau, rawa dan semua lingkungan yang memberikan habitat yang cocok.

Kehidupan

Di dalam pemeliharaan jantan yang diamati sedang mencumbu sering memunculkan kepalanya di atas betina sebagai akibat kejar-kejaran yang dilakukan disekeliling kolam. Sesuai dengan E. Moll, S. crassicollis di Malaysia dapat meletakkan 3 sampai 4 sarang yang berisi satu atau dua butir telur selama musim kawin mulai April sampai Juni. Ewert (1979) melaporkan bahwa telur memanjang dengan ukuran 45×19 mm, dan bahwa 12 kura-kura yang baru menetas mempunyai rata-rata panjang karapas 52 mm.

Kura-kura ini bersifat karnivor, yaitu makan cacing, keong, sampah, udang dan amfibia. Juga memakan bangkai, dan Wirot (1979) melaporkan bahwa dia makan buah rotan yang jatuh ke air. Kebanyakan makanannya ditangkap dan dimakan di dalam air, tetapi Wirot (1979) menyatakan bahwa dia naik ke daratan pada malam hari untuk mencari makanan atau kawin.

S. crassicollis adalah penyelam dasar, sebagian besar waktunya membenam di lumpur, walaupun begitu, setidaknya di pemeliharaan kadang-kadang berjemur. Beberapa pedagang menyebutnya sebagai kura-kura biara kuil Siam karena kebiasaannya yang suka berada di pojok bangunan dengan kepala ditengadahkan ke atas.

No Comment

Comments are closed.