Spesies Kura-kura Asli Indonesia

Kura-kura air tawar berada di bawah Ordo Testudines, klas reptilia diluar Famili Chelodinidae (penyu laut) dan Famili Testudinidae (kura-kura darat). Ordo ini merupakan kelompok hewan yang unik dengan ciri utama adalah adanya karapas dan plastron yang menyelubungi seluruh tubuh kecuali kepala, anggota tubuh dan ekor. Karapas dan plastron ini umumnya mempunyai struktur yang keras dan kompak, walaupun pada Trionychidae (labi-labi atau bulus) berupa kulit yang lunak.

Saat ini telah dan sedang terjadi fragmentasi dan kerusakan habitat perairan yang sangat hebat yang umum terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Efek langsung maupun tidak langsung pada populasi kura-kura air tawar adalah penuruan populasi yang sangat tajam. Selain masalah habitat, beberapa spesies kura-kura air tawar diekploitasi secara besar-besaran sebagai komoditas ekspor (misalnya labi-labi) dan untuk hewan peliharaan yang eksotik. Perburuan liar merupakan ancaman yang sangat serius jika dihubungkan dengan kemampuan reproduk­si­nya yang lambat.

Selain masalah reproduksi yang lambat, tingkat pertumbuh­an­nya juga lambat. Dilaporkan bahwa labi-labi mencapai dewasa dan mampu bertelur setelah berumur 2 tahun atau lebih tergantung kualitas lingkungan. Dengan tingkat reproduksi dan pertumbuhan yang lambat jika dihadapkan pada kerusakan lingkungan perairan yang cepat dan perburuan liar, maka tidak mustahil dalam waktu yang cepat populasi kura-kura ini akan menurun dengan drastis.

Sebagai ciptaan yang unik, berumur panjang dan tahan hidup di lingkungan yang ekstrem, beberapa kelompok masyarakat atau kelompok etnik tertentu mempercayai hewan ini sebagai keramat dan memberi tuah. Secara tradisional, masyarakat Jawa (terutama Jawa Barat) menganggap labi-labi merupakan hewan keramat. Walaupun sampai sekarang di beberapa tempat masyarakat tradisional masih menganggap keramat, akibat permintaan pasar begitu tinggi yang diikuti dengan harga yang tinggi pula maka kelangsungan populasinya patut dikhawatirkan. Serbuan permintaan pasar ini juga disebabkan oleh kepercayaan tradisional etnik Cina, Korea dan Jepang yang jika memakannya bisa memperpanjang umur dan memberikan kekuatan supranatural. Ribuan ekor labi-labi per hari ditangkap dari alam di Kalimantan, Sumatera dan Jawa untuk kemudian diperjualbelikan sebagai komoditas ekspor ke Cina Taiwan, Korea, Singapura, Hongkong dan Jepang. Mengatasi permintaan yang tinggi itu, seharusnya kita berupaya untuk membudidayakannya sehingga populasi alaminya tidak terganggu. Masalah budidaya selalu terbentur pada pertumbuhan dan reproduksinya yang lambat. Untuk itu, harus ada yang memulainya dengan langkah awal mencari sifat-sifat biologis yang secara komparatif unggul untuk dibudidayakan selain mencari teknik pembudidayannya.

Usaha untuk mengenalkan bangsa kura-kura yang menyebar di Indonesia relatif kurang. Jika dibandingkan dengan bangsa reptilia yang lain seperti komodo, penyu laut atau buaya, maka bangsa kura-kura seperti dianaktirikan. Hal ini bisa terlihat di Kebun-kebun binatang yang ada di Indonesia atau malah di Museum Zoologi Bogor. Di lembaga-lembaga tersebut, koleksi kura-kura air tawarnya sangat sedikit. Selain itu penelitian-penelitian berbagai aspek biologis tentang bangsa ini yang menyebar di Indonesia sangat kurang. Karena itu, kami dari Program Konservasi dan Pengembangan Reptilia dan Amfibia (PKPRA), Lembaga Penelitian IPB, berusaha memulainya dengan membuat sinopsis dari beberapa spesies yang menyebar di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa berdasarkan species checklist yang dibuat oleh Whitten dan McCarthy tahun 1993.

Famili Trionychidae – labi-labi; bulus

       Dogania subplana – Labi, Bulus Labi-labi, Layi-layi, kuya

       Amyda cartilaginea – Bulus, Labi-labi, Kuya, Labi Super

       Chitra indica – Labi bunga

       Pelochelys cantorii – Labi besar

       Pelochelys bibroni – Papua Giant Soft-shelled Turtle (?)

Bataguridae – Kura-kura kotak

       Batagur baska Tuntong Laut

       Callagur borneoensis – Beluku, Biuku, Sutong, Tuntong sungai

       Cuora amboinensis – Kura katap, Kura-kura, Kura-kura patah, kura sawah

       Cyclemys dentata – Beluku, Bulus, Kura matahari, Kura bergerigi, kura daun

       Heosemys grandis – Kura besar

       Heosemys spinosa – Kura duri,  Kura matahari, Kura bergerigi, Kura-kura dari bukit

       Hieremys annandalei – Kura tokong

       Malayemys subtrijuga – Jelebu siput

       Notochelys platynota – Biuka, Kura punggung datar

       Orlitia borneensis – Juku-juku besar, Baning dayak

       Siebenrockiella crassicollis – Kura-kura kolam, Jelebu hitam, Kura Siam

       Geoemyda yuwonoi – Kura-kura kayu Sulawesi

Dermochelyidae – Penyu lunak

       Dermochelys coriacea – Penyu timbo, Penyu belimbing, Penyu lunak, Kamban, Kembau, Agal

Cheloniidae- Penyu

       Caretta caretta – Penyu karah, Penyu kepala besar, Penyu sisek tempurong

       Chelonia mydas – Penyu agar, Penyu hijau, Penyu pulau, Penyu emergit

       Eretmochelys imbricata – Penyu karah, Penyu lilin, Penyu sisik

       Lepidochelys olivacea – Penyu  lipas

Testudinidae – Kura-kura darat

       Manouria emys – Baning perang, Kura-kura enam khaki, Kadazandusun, Suyan

       Manouria impressa – Baning bukit

Carettochelyidae

       Carettochelys insculpta – Labi-labi moncong babi

Suborder Pleurodira (Hanya ada di Indonesia Bagian Timur)

       Chelodina mccordi – Roti Island Long-necked Turtle

       Chelodina novaeguineae – New Guinea Snake-necked Turtle

       Chelodina parkeri – Parker’s Snake-necked Turtle

       Chelodina reimanni – Reimann’s Snake-necked Turtle

       Chelodina siebenrocki – Siebenrock’s Snake-necked Turtle

       Elseya branderhorsti – Southern New Guinea Snapping Turtle

       Elseya novaeguineae – New Guinea Snapping Turtle

       Elseya schultzei – Northern New Guinea Snapping Turtle

       Elseya sp. – The Pink-bellied Short-necked Turtle

       Emydura subglobosa – Red-bellied Short-necked/Painted Side-necked Turtle

No Comment

Comments are closed.