Archive for the 'Opini' Category

Orientasi molekul DNA

Ada dua sisi yang mengakselerasi perkembangan yang pesat Biologi Sel Modern, yaitu sisi teknik lab dan sisi topik penelitian. Teknik lab yang menyumbang paling besar adalah DNA-related techniques, terutama yang berhubungan dengan transkripsi dan pengaturan sinyal transkripsi. Sedangkan di sisi topik penelitian adalah yang dimotori oleh beragam topik penelitian kanker.

Pada tahun 2000an dan sebelumnya, cakupan DNA-related techniques didominasi oleh “genomik”. Dalam hal ini berkenaan dengan struktur dan fungsi gen. Struktur gen meliputi organisasi gen, lokasinya dalam kromosom dan pengenalan ruas-ruas ORF (open reading frame). Ruas ORF ini adalah ruas yang menyandikan mRNA. Pada sel eukariotik, suatu gen penyandi diorganisasikan dalam struktur promotor-ekson-intron. Konfirmasi dari suatu organisasi gen untuk menentukan suatu ruas ORF biasanya dilakukan dengan mempelajari hasil transkripsi gen berupa mRNA. Jadi ketika itu berlaku dogma sentral yang menyatakan bahwa DNA bisa direplikasi menjadi DNA baru (pewarisan), ruas tertentu DNA bisa ditranskripsi menjadi RNA (batasan gen) dan mRNA dibantu dengan rRNA dan tRNA ditranslasikan menjadi polipeptida (pewujudan genetik).

Nilai penting dari sisi teknologi yang berhubungan dengan DNA ini kemudian diformulasikan dalam bentuk soal UTS mata kuliah Biologi Sel 2014 sbb:
“Terangkan dengan singkat apa arti sebenarnya dari arah 5 -> 3 dari molekul polinukleotida!” dengan nilai 4 poin.
Soal tsb ditulis ulang dari pertanyaan mahasiswa Biologi Sel tentang angka-angka 5 dan 3 dalam suatu utas DNA. Pengamatan sepintas selama ujian berlangsung, menunjukkan bahwa soal ini relatif mudah karena posisi nomor soalnya tidak dilewati dan hampir semua menjawabnya.

Hasil analisis terhadap soal ini ternyata sangat mengejutkan. Mahasiswa Biologi Sel yang menjawab
benar dengan 4 poin: 3%
benar dengan 2 poin: 5%
salah: 92%

Setelah mahasiswa diminta untuk menjawab ulang soal tsb (take home assignment) dalam tenggang waktu seminggu menunjukkan adanya peningkatan, yaitu
benar dengan 4 poin: 37%
benar dengan 2 poin: 9%
salah: 54%

Lumayan, ada sekitar 40% mahasiswa yang paham bahwa angka 5 dan 3 yang ditulis dalam sutau utas DNA itu menunjukkan orientasi arah molekul, yaitu ujung 5 dan ujung 3 berkenaan dengan ikatan fosfodiester yang dibangun oleh gugus fosfat yang menempel pada atom C nomor 5 dan gugus OH yang menempel pada atom C nomor 3 dari gula ribosa.

Hhheeem, semoga Biologi Sel Modern bisa berkembang pesat di IPB walau salah satu parameter penguasaan ilmu dasarnya kurang baik.

 

kecerdasan, musik klasik, alQuran

Ketika ada mahasiswa bertanya “Pak, apakah benar jika mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan?”

Masalah utama dari pertanyaan itu adalah definisi “kecerdasan”.

Seseorang disebut cerdas pada umumnya karena nilai rapor dan aktif bertanya (di SMA), ditambah dekat dengan guru, centil-centil dikit dan atraktif (SD dan SMP), atau karena nilai IPK dan cepat lulus (di Universitas).

Sampai sekarang, tidak ada definisi baku apa yang dimaksud kecerdasan. Ada yang bilang sebagai tingkat kemampuan bernalar dalam wilayah koginitif (berpikir); ada yang yang bilang sebagai kemampuan beradaptasi (dalam hal ini membutuhkan rangkaian berpikir dan bertindak); ada juga yang bilang sebagai kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa dan juga kemampuan belajar. Karena mendefinisikannya sulit maka beberapa orang membuat spesifikasinya, yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan:

  • pemahaman dan kemampuan verbal,
  • angka dan hitungan,
  • kemampuan visual,
  • daya ingat,
  • Penalaran, dan
  • Kecepatan perseptual

Musik klasik sangat patuh dengan notasi musik yang ada dalam partitur. Akibatnya penggemar musik klasik biasanya orang yang konservatif, mampu membuat pola yang sama dari berbagai kejadian dan bersifat konsisten/istiqomah. Dalam hal ini, siapapun yang bermusik akan menghasal irama yang sama. Bandingkan dengan musik jaz yang bisa menyimpang dari partitur/pakem. Para pemusik jazz tidak pernah patuh ke partitur, seenaknya memodifikasi not-not musik yang ada tetapi masih tetap menghasilkan musik yang indah. Akibatnya, para pemusik jaz punya cirinya tersendiri.

Nah, dengan begitu ada sudut pandang yang bisa kita hubungkan antara musik klasik dan kecerdasan. Bisa jadi, seseorang harus cerdas dulu baru bisa bermain musik klasik. Atau bisa jadi pula, notasi-notasi musik klasik yang teratur dan konsisten mampu membuat seseorang yang awalnya berpikir berantakan menjadi lebih tertata sehingga disebut sebagai orang yang cerdas.

Satu hal yang mungkin bisa menjadi pegangan: musik berada dalam ranah emosi. Beberapa bagian emosi terakit dengan kecerdasan. Lalu, musik yang seperti apa? itulah yang sulit dijawab.

Beberapa hari kemudian di Masjid Alhurriyah IPB, materi khutbah jumat menyinggung-nyinggung kecerdasan ini, yaitu tentang kecerdasan seorang Imam Safii. Salah satu keterangannnya adalah ibu beliau adalah seorang Hafidz. Jadi selama hamil, beliau selalu memperdengarkan bacaan-bacaan mulia secara rutin. Akibatnya Imam Safii sudah terbiasa mendengar bacaan mulia sejak dalam kandungan; dan setelah berumur 7 tahun beliau fasih dan jadi Hafidz juga.

Lalu, benarkah bayi bisa mendengar? Ya, setelah bayi berumur >6 bulan. Setelah organogenesis otak (sekitar bulan ke-4) dan organogenesis indera pendengaran (sekitar bulan ke-6) maka bayi bisa mendengar.

============

note: al Hafidz = sebutan untuk orang yang hafal Quran

Nilai lain mentraktir makan

Tubuh manusia dan sebagian besar hewan vertebrata tingkat tinggi tidak  bisa membuat beberapa jenis asam amino yang dikenal sebagai asam amino esensial. Dari 20 jenis asam amino (aa) yang dikenal denngan baik, tubuh manusia ternyata tidak bisa membuat 9 jenis aa. Ke-9 jenis aa ini wajib datang dari luar tubuh sebagai makanan. Karena itu,  manusia harus makan makanan yang sangat beragam untuk memperoleh ke-9 jenis aa  secara lengkap. Disarankan agar kita tidak terlalu fanatik hanya ke satu jenis makanan saja. Dalam jaring-jaring makanan, asam amino berlalu-lalang dari si pembuat awalnya, bisa dari bakteri, jamur, tumbuhan maupun dari beragam jenis hewan.

Asam amino yang masuk ke tubuh kemudian dijadikan prekursor untuk membuat asam amino yang lain dan kemudian disusun ulang menjadi suatu protein. Dalam  hal ini, setiap asam amino dibawa oleh tRNA tertentu untuk saling  digabung-gabung berdasarkan urutan penyandian yang yang ada di mRNA. Dan  mRNA disalin dari DNA. Jadi, komposisi protein dalam tubuh manusia diatur  oleh DNA (gen). Dengan kata lain, tubuh kita berdaulat penuh atas  komposisi protein penyusun tubuh. Tidak boleh ada satupun protein yang  datang dari luar tanpa melalui hidrolisis terlebih dahulu dalam sistem pencernaan dan/atau melalui  pemeriksaan yang intens oleh sistem kekebalan tubuh.

Lalu apa yang akan terjadi jika seseorang kekurangan satu atau dua  asam amino esensial karena tidak mampu membeli makanan yang bergizi  atau karena ketidaktahuannya tentang gizi? Yang akan terjadi adalah  komposisi protein tubuhnya akan mengalami perubahan yang salah  satunya disebut dengan gejala malnutrisi. Dampak dari malnutrisi ini  sangat luar biasa beragam. Beberapa yang sering terlihat antara lain  wajah kuyu, kulit kering, rambut rontok, kecerdasan mentok, kurang  kreatif, gampang marah, dll. Ternyata dampak tsb sering kita temukan  pada tubuh orang miskin. 

Dari uraian singkat diatas, maka terbuka kesempatan bagi kita-kita untuk menyajikan  makanan (atau mentraktir makan) dengan jenis makanan yang bukan makanan sehari-hari dari yang disajikan makan. Terbuka juga kesempatan untuk membawa oleh-oleh makanan dari  kampung halaman dengan material lokal yag khas, terutama material dari  hewan-hewan laut.

Jadi, nilai nilai penting dari memberi (lebih tepatnya, menyajikan) makanan ke orang lain, teman, tetangga, atau siapapun dia, bisa diartikan sebagai memberi kesempatan bagi mereka untuk memperlengkap kebutuhan asam amino esensialnya.

======

[note. aa amino esensial bagi tubuh manusia: H Histidine, I Isoleucine, L Leucine, K Lysine, M Methionine, F Phenylalanine, T Threonine, W Tryptophan, V Valine; semi esensial: Cystein bisa dibuat dari Methhionine dan Tyrosine bisa dibuat dari Phenilalanine]

Semoga bermanfaat

Hukum Mendel dan problematiknya

Setelah Tulisan Tuan Mendel banyak yang membenarkan maka segera itu pula banyak yang menolaknya. Sebagian besar penolakannya kemudian diberi fasilitas “penyimpangan Hukum Mendel”. Walaupun istilah ini kurang tepat, tetapi kelompok yang menolak Hukum Mendel bisa memahaminya. Sebagian yang lain menolaknya karena menganggap data Tuan Mendel terlalu sempurna yang menerbitkan kecurigaan.
Fasilitas “penyimpangan hukum Mendel” sebenarnya masih relevan dengan Hukum Mendel itu sendiri. Dari hasil pengamatan beberapa sifat tertentu Mendel membuat hipotesis bahwa bahwa setiap sifat yang muncul dikendalikan oleh suatu faktor; dalam satu tanaman kacang kapri, terdapat sepasang faktor yang saling terpisah (Misal: sifat warna bunga ungu dikendalikan oleh faktor ungu dan faktor putih); ada hubungan dominan-resesif antar pasangan faktor. Hipotesis tsb ternyata terbukti dari percobaan Mendel sehingga memunculkan Hukum Mendel,
Pertama: pada waktu pembentukan gamet, faktor-faktor dari sepasang faktor suatu sifat bersegregasi (berpisah)
Kedua: Pada waktu pembentukan gamet F1, masing-masing faktor dari sifat pertama (Y atau y) akan Berpadu Bebas dengan masing-masing faktor dari sifat kedua (R atau r)
Faktor yang dilambangkan dengan huruf besar disebut sebagai faktor yang dominan atau yang muncul sebagai sifat. Pada saat ini diketahui bahwa yang disebut faktor oleh Mendel adalah gen, dan pasangan faktor adalah pasangan alel.
Dalam setting percobaan yang dilakukan oleh Tuan Mendel dan kemudian banyak dibuktikan pada berbagai organisme yang lain ternyata fenomena alam yang dikemukakan dalam Hukum Mendel terbukti. Sampai kemudian ada yang menemukan fenomena bahwa hubungan antar alel tidak hanya dominan-resesif, melainkan ada juga yang dominan tidak penuh. Pada organisme lain juga ditemukan adanya hubungan antar alel yang tidak mengikuti hipotesis dominan-resesif, karena keduanya sama-sama dominan yang dikenal sebagai kodominan. Selain itu, ada juga pleitropi, epistasis, poligen, pautan dan pindah silang. Artinya Hukum Mendel nya masih tetap berlaku tetapi sifat yang muncul (fenotipe)nya membutuhkan keterangan tambahan sehingga disederhanakan disebut sebagai “penyimpangan Hukum Mendel”.
Berkat Hukum Mendel, beragam teknologi bermunculan dengan pesat hanya dalam rentang waktu kurang dari 30 tahun, terutama yang ada dalam ranah “pemuliaan tanaman” ataupun “pemuliaan hewan”. Sampai sekarang pun, beragam cara untuk mengidentifikasi gen-gen yang mengendalikan suatu sifat unggul pada beragam organisme masih terus dilakukan. Sejalan dengan itu, beragam cara mengajarkan Hukum Mendel dan implikasinya dalam “membuat tanaman/hewan” unggul terus juga dilakukan. Hal ini tentunya semakin mempercepat munculnya galur-galur ataupun varietas-varietas baru, baik tanaman maupun ternak.

….eng…ing eennnggg…

– ada aja yang ketakutan karena dianggap sudah mengintervensi kekuasaan Tuhan dalam menciptakan mahluk hidup…
– muncul kalimat senda-gurau bagi jombloers …kalo mau memperbaiki keturunan pilih yang indo aja…
– Dominansi maskulin, yi sifat-sifat unggul datangnya dari jantan
– Ternyata tidak semua organisme itu bersifat diploid, ada juga yang haploid, triploid dan multiploid.
– Tidak semua perkembangbiakan organisme dilakukan secara kawin (seksual), tetapi ada yang partenogenetik, ada yang fragmentasi, ataupun pembentukan tunas
– Ada protandri dan pergantian jenis kelamin mengikuti umur, mengikuti musim atau karena interfensi lingkungan
– Ada interfensi manusia mengembangbiakkan tanaman/hewan, misal: mencangkok, kultur jaringan, kultur protoplas, inseminasi buatan

– ada teknologi inseminasi buatan yang sebelumnya dilakukan penyeleksian kromosom (seks), penggantian  mitokondria,
– Ada genom selain inti yang juga mengendalikan sifat, yaitu mitokondria

dan terakhir:
– Ada fenomena epigenetik, yaitu munculnya suatu sifat tidak semata-mata karena adanya gen melainkan karena adanya interaksi dengan lingkungan

Umat yang Utama

Di malam hari, Salah seorang komandan tentara Romawi – Jarjah (George) – mendatangi Khalid bin Walid untuk berdiskusi. Perang antara Islam dan Romawi ini terjadi d Yarmuk, terjadi 2 tahun setelah Nabi SAW wafat.
Bagian terakhir dari rangkaian diskusi sbb:

Jarjah: “Apakah orang yang baru masuk Islam itu bisa mempunyai pahala dan keutamaan seperti kalian, Khalid?”
Khalid: “Bahkan lebih utama!”
Jarjah: “Bagaimana mereka bisa menyamai kalian, sedangkan kalian mendahului mereka?”
Khalid (sambil teringat dia akan Sang Nabi): “Kami masuk Islam dan membaiat Nabi ketika beliau masih hidup di tengah-tengah kami. Wahyu dari langit masih turun. Beliau memberitahukan kepada kami AlQuran dan menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Pantas bagi orang-orang yang melihat apa yang kami lihat dan mendengar apa yang kami dengar untuk masuk Islam dan membaiat. Sedangkan kalian tidak melihat apa yang kami lihat dan tidak mendengar apa yang kami dengar tentang keajaiban dan bukti kebenaran kenabiannya”.
Mengeras suara Khalid, tegas dan jelas “Jadi, siapa diantara kalian yang masuk ke dalam golongan kami dengan sungguh-sungguh dan niat yang baik, mereka lebih utama daripada kami”
Jarjah: “Demi Tuhan engkau jujur kepadaku dan tidak menipuku?”
Khalid: “Demi Allah, aku jujur kepadamu. Aku tidak punya kepentingan denganmu”
Lalu keduanya saling berpisah untuk melanjutkan perang esok harinya.

(Disadur dari Tasaro, 2011, Muhammad: Para pengejar Hujan, hal 641)

Evolusi, Seleksi Alam dan Perintah Berpikir

Semua yang ada di bumi, langit dan di antara keduanya diciptakan Allah Azza wa Jalla. Sebagian kecil diantaranya bisa diindera secara langsung tanpa menggunakan alat dan tanpa dideduksi keberadaannya, yaitu bisa dilihat, didengar, diraba maupun dicium secara langsung . Sebagian kecil yang lain berada dalam satu jaman dengan kita. Namun begitu, sebagian besar ciptaanNya tidak bisa diindera secara langsung, baik karena berada tidak dalam satu jaman dengan kita maupun karena bendanya berada di luar kisaran kemampuan indera. Opini ini akan mengulas benda dalam kategori benda hidup yang hidup tidak sejaman dengan manusia dan juga yang tidak bisa diindera secara langsung oleh manusia.

Salah satu yang dijadikan pegangan utama untuk bisa memahami bahwa semua yang ada adalah ciptaanNya adalah perintah untuk menggunakan akal, misalnya dalam QS 34:36: Katakanlah hai Muhammad: ” Aku hanya menganjurkan kepadanya satu hal saja, yaitu berdirilah karena Allah berdua-dua atau bersendiri-sendiri, kemudian berpikirlah”. Dalam hal ini, kita wajib tunduk dan beriman terlebih dahulu baru kemudian kita dipersilakan berpikir. Tidak ada batasan apa yang boleh dan tidak boleh dipikir. Yang ada adalah kalau pikiran kita benar maka dapat 2 pahala, yaitu telah berpikir dan benar. Kalau pikiran kita salah, hanya dapat 1 pahala, yaitu telah berpikir. Jadi dalam hal ini, berpikir adalah perintah dan bisa salah ataupun bisa benar. Hanya saja ada beberapa clue yang disarankan untuk tidak terlalu dipikir karena akan menghabiskan sumberdaya waktu dan tenaga yang terlalu banyak, yaitu berpikir tentang kehidupan roh dan hal-hal yang ghaib. Keduanya dikategorikan dalam domain “transendental” yang harus diimani secara mutlak. Di luar domain itu, kita disuruh untuk selalu berfikir tentang apapun dari ciptaanNya yang ada di bumi, di langit dan diantara keduanya, sepanjang waktu.

Salah satu fenomena yang selalu heboh dan kalau kita memikirkannya selalu dianggap menentang Allah Sang Maha Pencipta adalah teori evolusi yang disampaikan oleh Tuan Darwin. Teori evolusi tsb dihasilkan oleh pikiran Tuan Darwin setelah mengamati beragam bentuk kehidupan. Tentunya tidak hanya Tuan Darwin yang berpikir seperti itu. Di jamannya ada Tuan Wallace, ada Tuan Huxley, dll. Sebagai suatu fakta alam, evolusi adalah salah satu cara kita menerangkan adanya beragam bentuk kehidupan. Dari sekian banyak diskusi yang mempertentangkan Teori Evolusi dan agama biasanya bermuara ke permasalahan yang sama, yaitu kemampuan indera manusia yang sangat terbatas dan umur manusia yang sangat pendek. Pertentangan antara Teori Evolusi dan Teori Penciptaan yang dimunculkan oleh kelompok non-muslim ikut-ikutan dibawa masuk ke ranah Islam. Selain itu, ada sentimen berlebihan terhadap interpretasi dari Teori Evolusi, yaitu manusia disebutkan sebagi berasal dari monyet.

Beberapa fakta yang Tuan Darwin temukan adalah
1. Semua mahluk hidup (telah) melakukan adaptasi
2. Mahluk hidup itu sangat beragam
3. Semua mahluk hidup cenderung bereproduksi melebihi kapasitas daya-dukung lingkungannya (ide dari Thomas Malthus)
4. Kemampuan mahluk hidup untuk beradaptasi dengan lingkungannya sangat beragam. Mahluk hidup yang mampu beradaptasi akan bisa terus hidup dan bereproduksi lebih baik dibanding yang lain.

Poin ke-4 dari yang ditemukan Tuan Darwin dikenal sebagai Seleksi Alam dengan jargon yang terkenalnya “survical of the fittest”. Fakta menunjukkan bahwa kemampuan bereproduksi ini bukan semata-mata karena tubuhnya lebih kuat ataupun lebih cepat, melainkan karena dia lebih “fit” dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Berdasarkan ke-4 poin diatas, kemudian Tuan Darwin merumuskan dua poin tentang evolusi, yaitu
1. mahluk hidup yang ada saat ini berasal dari mahluk hidup yang ada sebelumnya, dengan beberapa modifikasi
2. modifikasi terjadi melalui mekanisme seleksi alam

Kedua poin tentang evolusi tsb ditulis secara panjang lebar dalam bukunya yang berjudul “On the Origin of Species by Means of Natural Selection”. Dalam buku tersebut tidak ada satupun kalimat yang menyebutkan bahwa manusia merupakan keturunan monyet. Kalimat “manusia keturunan monyet” adalah hasil interpretasi dan ekstrapolasi oleh pembaca dengan tingkat pengetahuan pada jaman itu, yaitu tahun 1858, dan juga dominansi biblical creation, Di lain pihak, dampak dari karya Tuan Darwin telah dan akan terus memunculkan banyak turunan penemuan ilmu-ilmu alam dan juga melahirkan banyak teknologi.

Allah Azza wa Jalla adalah Maha Pencipta dan Maha Abadi. Pada saat ini kita temukan mahluk hidup sangat beragam. Salah satu implikasi dari teori Darwin akan berujung ke suatu kondisi dimana ada mahluk hidup yang paling awal. Fakta alam menunjukkan bahwa mahluk hidup paling awal diperkirakan berbentuk sel purba (Prokariota) yang muncul di muka bumi sekitar 3.8 milyar tahun yang lalu pada saat kondisi bumi anerobik. Kalau perkiraan data geologi dan atmosfer dijadikan acuan, maka umur bumi ini baru sekitar 5 milyar tahun. Ada jeda sekitar 1.2 milyar tahun sejak terbentuknya bumi sampai munculnya mahluk hidup pertama. Ilmu pengetahuan menyebutkan masa 1.2 milyar tahun pertama itu sebagai Jaman Hadean. Setelah sel purba sebagai mahluk hidup pertama terbentuk dalam kondisi anaerobik kemudian diikuti dengan akumulasi populasi bakteri fotosintetik yang melepaskan oksigen bebas ke udara. Oksigen bebas ini saling bereaksi membentuk ozon. Terbentuknya ozon menghalangi masuknya sinar matahari ke permukaan bumi dan sekaligus menjadi penyeleksi kemunculan mahluk-mahluk hidup berikutnya. Sekitar 1,8 milyar tahun yang lalu muncul mahluk multiseluler, kemudian sekitar 1 milyar tahun yang lalu muncul hewan.

Nah, disini muncul polemik tentang penciptaan manusia yang secara anatomis diperkirakan terbentuk sekitar 2 juta tahun yang lalu. Rangkaian proses pembentukan mahluk hidup yang memakan waktu 3.8 milyar tahun tidaklah sebanding dengan nama yang disandangkan ke Sang Maha Abadi. Disini ada dimensi waktu yang sangat berbeda antara waktu manusia dan waktu Ilahiah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang hari terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk ataupun berbaring, dan mereka bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi (sehingga memperoleh kesimpulan): “Ya Tuhan kami, tidak ada yang sia-sia segala yang Engkau ciptakan ini. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS 3:190-191)’

Ciptaan Allah sangat beragam karena yang satu “mungkin” merupakan hasil perubahan dari yang lain sewaktu mereka saling berinteraksi. Allah adalah Baqa (Maha abadi) dan Allah adalah khaliq (Maha Menciptakan). Manusia sebagai salah satu ciptaannya tidak akan mampu mengindera semua ciptaan Allah, baik langsung maupun menggunakan alat dan metode-metode penelitian yang paling canggih sekalipun. Ya kita tidak akan mampu untuk itu tapi kita diperintahkan untuk berpikir. Maka muncullah berbagai hasil olah pikir yang kita sebut teori, aksioma, hipotesis dll. Teori evolusi adalah hasil pikiran manusia untuk menerangkan keberagaman ciptaan Allah. Selama didukung oleh bukti-bukti yang ada dan bisa dipertanggungjawabkan metodologinya maka hasil pikiran manusia tersebut untuk sementara bisa kita terima. Guru saya biasanya setelah menerangkan sesuatu hasil pikirannya akan diikuti dengan bergumam “wallahu a’lam bil muradi”. Suatu sikap pengakuan bahwa Allah Maha Benar.

Salahkah Darwin? Benarkah Harun Yahya?

Karena sentimen bahwa Darwin adalah nonmuslim maka pasti salah, sedangkan H. Yahya yang muslim pasti benar.

Ya memang ada peringatan ” Hai orang-orang beriman, jika kamu mendapat kabar ….ila akhiri ayah” Artinya bukan salah tapi harus diperiksa ulang, dicermati dan tidak boleh langsung dipercaya. Kalau ayat ini kita gabungkan ke konsep wajib dalam Islam maka akan muncul benang merah siapa yang boleh kita condongi sebagai benar.
Konsep wajib dalam Islam, yaitu ada fardh ‘ain yang melekat ke individu dan ada frdh kifaya yang melekat ke kelompok/masyarakat. Fardh ‘ain tidak bisa dibantah, mau tidak mau harus dilakukan oleh seluruh Muslim sedangkan fardh kifaya hanya boleh dilakukan oleh satu atau dua orang saja atau satu kelompok orang saja dengan syarat dia layak untuk melakukannya. Disebut layak karena profesinya. Disebut layak karena dia ahlinya. Disebut layak karena dia telah belajar untuk itu. Jadi dalam hal ini Darwin layak untuk menerangkan mekanisme evolusi yang terkenal dengan teori evolusi karena profesi dia sebagai peneliti evolusi. Lalu layakkah H. Yahya menerangkan mekanisme evolusi dari sudut pandang fardh kifaya? Wallahu a’lam.

Lalu bagaimana kita harus menanggapi yang bukan teori (pernyataan yang didukung bukti-bukti kuat), melainkan baru hipotesis (dukungan bukti pernyataan perlu diklarifikasi dan diteliti lebih lanjut)?

Beragam hipotesis di seputar Evolusi ini didukung oleh berbagai bukti yang harus dibuktikan lebih lanjut kebenarannya. Sesuai namanya, hipotesis = dugaan. Menduga = berpikir. Berpikir = perintah Allah.
Jadi tolong renungkan lagi.

Semoga bermanfaat.

AFM