Archive for the 'Reptilia' Category

Famili Trionychidae

Kunci Genus Labi-labi Anggota Famili Trionychidae (Ernst dan Barbour, 1989)

1 a Panjang moncong (probosis) sama dengan diameter orbit

2

b Panjang moncong (probosis) lebih pendek dari diameter orbit

Pelochelys

2 a Postorbital bar jauh lebih lebar dibanding diameter orbit; permukaan penggerus sempit dan tajam

Chitra

b Postorbital bar lebih sempit dibanding diameter orbit; permukaan penggerus lebar dan datar

3

3 a Perpanjangan preplastral anterior panjang

4

b Perpanjangan preplastral anterior pendek atau sedang

7

4 a Tulang kostal ada 8 pasang, pada setiap pasang dipisahkan oleh neural

Dogania

b Tulang kostal ada 7 atau 8 pasang, pada setiap pasang atau beberapa pasang saling bersentuhan

5

5 a Kalositas plastral ada 7

Pelodiscus

b Kalositas plastral ada 4 atau 5

6

6 a Kalositas plastral ada 4; lebar tulang nuchal kurang dari sepertiga panjangnya

Palea

b Kalositas plastral ada 5; lebar tulang nuchal setidaknya sama dengan sepertiga panjangnya

Amyda

7 a Perpanjangan preplastral anterior sedang

Aspideretes

b Perpanjangan preplastral anterior pendek

8

8 a Lebar tulang nuchal kurang dari tiga kali lipat panjangnya

Nilssonia

b Lebar tulang nuchal tiga kali lipat atau lebih panjangnya

9

9 a Tulang kostal ada 8 pasang, tidak kurang

Trionyx

b Tulang kostal kurang dari 8 pasang atau tidak ada

10

10 a Kalositas plastral hanya ada 2

Rafetus

b Kalositas plastral 4 atau lebih

Apalone

 

Dogania Gray, 1844

Anggota genus ini hanya satu, yaitu D. subplana (Geoffroy, 1809)

Pengenalan

Karapas yang lonjong dan tipis (bisa 35 cm) berwarna hitam sampai kehijauan atau gelap kecoklatan dengan garis medial hitam dan 2 atau 3 pasang bulatan hitam, bintik-bintik bertepi agak kekuningan. Corak ini memudar sesuai umur. Terdapat beberapa jejeran tuberkel longitudinal di atas karapas, jika ada, di tepi anterior karapas di atas leher tuberkel tumpul. Neural tunggal terdapat di antara pasangan pertama tulang kostal. Pasangan kostal ke-8 berkembang dengan baik tetapi seperti 7 pasangan sebelumnya, dipisahkan oleh tulang neural. Pada kebanyakan kura-kura berkarapas lunak, pasangan costal terakhir saling bersinggunagan di garis median. Tulang kostal dan neural kasar dengan granul-granul rapuh dan pori-pori kecil. Plastron berwarna keputihan sampai krem atau abu-abu, dan membawa 4 kalosit yang kurang berkembang (hyo-hypoplastral, xiphiplastral). Seringkali hanya kalosit xiphiplastral yang dapat dibedakan. Lengan preplastral panjang dan membulat dan anteriornya hampir menyentuh epiplastra. Epiplastra mempunyai penjuluran yang panjang yang mana membentuk sudut tumpul atau tajam terhadap midline plastron. Tengkorak besar dengan tulang moncong  setidaknya sama panjang dengan diameter orbit dan simfisis mandibular lebih sempit dibanding diameter orbit; tengkorak kehilangan tonjolan memanjang (ridge) median. Permukaan penggerus dari rahang atas juga tidak mempunyai rigi median. Kepala berwarna coklat sampai kehiajauan atau hitam dengan beberapa spot kuning atau hitam. Garis medial hitam berjalan di sepanjang atas moncong dan di antara orbit, garis yang lain berjalan di sisi mulau ujung moncong sampai orbit, dan garis hitam kecil secara diagonal berjalan dari orbit ke arah belakang. Pada hewan muda, bulatan (blotch) kemerahan terdapat di belakang mata dan menutupi timpanum di setiap sisi kepala. corak ini menghilang pada hewan dewasa. Bawah rahang vermikulat hitam, leher dan bagian luar anggota tubuh kehijauan sampai kehitaman dengan spot-spot kecil kuning.

D. subplana ini adalah yang paling kecil di antara kura-kura berkarapas lunak. Jantan mempunyai ekor panjang dan tebal; betina mempuyai ekor pendek.

Penyebaran

D. subplana menyebar dari Birma bagian Selatan dan Thailand ke arah Selatan melalui Malaya sampai ke Jawa, Sumatera, dan Pulau-pulau kecil seperti Kepulauan Mergui, Tenasserim, Singkep di Kepulauan Riau, Kalimantan dan Filipina. Dari beberapa laporan penyebarannya di Pulau Jawa, D subplana dengan mudah ditemukan di sungai-sungai yang banyak mengalir di daerah Bogor sampai ke Puncak dan Gunung Salak, dan di sekitar Malang, Jawa Timur.

Habitat

Smith (1931) melaporkan bahwa D. subplana lebih menyenangi aliran air deras yang bersih dibanding sungai yang mengalir pelan dan berlumpur. Dia sering bersembunyi di bawah batu-batuan, yang dimungkinkan oleh cangkangnya yang tipis. Spesies ini cenderung tidak bisa besar, aliran sungai yang pelan biasanya dihuni oleh hewan yang relatif besar, menyukai aliran sungai di pegunungan, seringkali dia bersembunyi di bawah batu-batuan atau batu yang datar.

Amyda Geoffroy, 1809

Amyda adalah genus monotipik dengan hanya satu spesies, yaitu Amyda cartilaginea Boddaert, 1770.

Pengenalan

Karapas bulat sampai lonjong (mencapai 70 cm) berwarna hijaun keabu-abuan sampai coklat kehijauan dengan sejumlah spot hitam berpinggiran kuning dan titik-titik kuning pada spesimen muda. Pada hewan dewasa, spot-spot kuning memudar dan digantikan dengan garis-garis hitam memencar. Walaupun begitu, beberapa hewan dewasa tidak memperlihatkan corak itu dan mempunyai karapas rata kehijauan. Beberapa garis longitudinal terbuat dari tuberkel ditemukan pada karapas juvenil yang kemudian hilang pada hewan dewasa yang berukuran besar yang digantikan dengan karapas mulus. Jejeran tuberkel besar terdapat di atas karapas bagian anterior di atas leher. Tulang preneural tidak ada, dan hanya terdapat satu neural yang memisahkan pasangan kostal bagian anterior. Pasangan tulang kostal ke-8 sangat berkembang dan sampai saling bersinggungan di midline. Tulang-tulang karapas sangat berpori-pori. Plastron berwarna putih sampai keabu-abuan, mempunyai 5 kalosit yang mana kurang berpori atau pori-pori jarang-jarang. Preplastra hampir atau telah bersinggungan, dan epiplastra membentuk sudut terhadap midline. Ukuran tengkorak sedang, mempunyai tulang moncong yang sangat panjang dibanding diameter orbit. Sambungan simfisis berkembang baik di sepanjang rahang bawah yang panjangnya sama dengan diameter orbit. Permukaan bagian penggerus rahang atas tidak kasar. Kepala, leher dan anggota tubuh kehijauan dengan sejumlah spot-spot kecil kuning dan spot agak besar membentuk blotch kemerahan kadang terdapat di belakang orbit di sisi kepala. Spot tersebut kemudian memudar mengikuti pertambahan umur dan meninggalkan suatu jaringan garis-garis berwarna gelap pada hewan dewasa yang berkepala kehijauan.

Jantan mempunyai ekor panjang dan tebal dengan bukaa anal lebih ke ujung; ekor betina pendek. jantan mempunyai plastron putih dan betina keabu-abuan.

Penyebaran

A. cartilaginea menyebar mulai dari Gulf of Tonkin Vietnam ke arah Barat melewati Laos, kamboja dan Thailand, ke Burma bagian Selatan dan terus ke Selatan melewati malaysia sampai ke Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Variasi geografis

Sampai sekarang tidak ditemukan adanya subspesies, walaupun begitu, A. nakornsrithammarajensis (Wirot, 1979) dari Thailand mungkin bisa dianggap valid sebagai subspesies. Sayang sekali, spesimen yang tersedia untuk diperbandingkan sangat sedikit. Hewan dewasanya mempunyai karapas yang lebih bulat dengan bagian dorsal halus tetapi tuberkel terdapat di sepanjang tepi anterior karapas. Foto yang ditampilkan Wirot (1979) menunjukkan masih dipertahankannya pola spot-spot kuning di atas karapas dan kepala hewan dewasa tetapi pada A. cartilaginea spot-spot tersebut menghilang dan digantikan dengan spot-spot atau pencaran-pencaran hitam.

Habitat

A. cartilaginea ditemukan baik pada perairan di pegunungan yang berlumpur, perairan dataran rendah yang mengalir pelan dan sungai-sungai dan juga ditemukan di danau, rawa dan oxbow lakes yang berdekatan dengan sungai besar.

Kehidupan

Sarang digali di galangan lumpur sungai (Smith, 1931). Wirot (1979) mencatat bahwa di Thailand 3 atau 4 sarang telur dibuat setiap tahun; betina muda meletakkan telur 6-10 butir dan betina yang lebih tua meletakkan telur 20-30 butir. Moll (1979) melaporkan jumlah telur adalah 5-7 butir, dan Bourret (1941) menyatakan secara tipikal jumlah telur adalah 4-8 butir. Walaupun begitu jumlah normalnya tidak diketahui.Cangkang telur rapuh, bentuk membulat dengan diameter 21-33 mm, dan periode inkubasi lama, yaitu 135-140 hari (Bourret, 1941).

A. cartilaginea sangat karnivor, makan ikan, amfibi, krustasea, insekta air dan invertebrata yang terdapat di perairan. Walaupun begitu di daerah Cirebon dimana hewan ini dianggap keramat sehingga terdapat dalam jumlah banyak di kolam-kolam penduduk, bisa makan apa saja termasuk nasi dan kerupuk.

Wirot (1979) melaporkan bahwa kura-kura ini suka naik ke darat untuk menggali tanah dan beristirahat dalam waktu yang lama dengan hanya memunculkan ujung moncongnya. Dalam pemeliharaan kami dia jarang berjemur atau keluar dari air, walau begitu waktunya banyak dihabiskan di bawah pasir di dalam air; mereka juga tampak sangat nokturnal. A. cartilaginea galak dan dapat dipastikan akan menggigit bila dipegang. Daging spesies ini dianggap kurang enak dibanding kura-kura berkarapas lunak yang lain.

Malayemys, Lindholm, 1931

Genus ini diwakili hanya oleh satu spesies, yaitu Malayemys subtrijuga (Schlegel and Muller, 1844).

Pengenalan

Karapas M. subtrijuga dapat mencapai panjang 21 cm, walaupun kebanyakan individu berukuran lebih kecil. Karapas lonjong, agak melengkung, tidak bergerigi tetapi di bagian posterior bertakik, dan terdapat 3 lunas diskontinyu yang mempunyai knob yang terletak di pinggir posterior setiap sisik yang dilewati. Lunas median memanjang melalui 5 sisik vertebral, tetapi lunas lateral hanya sampai ke sisik pleural ke-4. Vertebral lebih lebar dibanding panjangnya. Neural tidak memanjang dan di jajaran pertengahan lebih pendek di posteriornya. Empat vertebral menutupi 4 neural. Warna karapas berkisar dari coklat terang sampai tua, kadang-kadang mahagoni, dengan batas pinggir kuning atau krem. Knob dari lunas dan lipatan marginal lebih gelap dibanding bagian karapas yang lain. Plastron tanpa engsel lebih kecil dibanding bukaan karapas dan posteriornya bertakik. Lobus posterior agak lebih pendek dibanding jembatan. Penopang plastron sangat kuat; aksilar melekat ke permukaan latero-ventral dari kostal pertama dan inguinal memanjang kira-kira sepertiga dari panjang sutura antara kostal ke-5 dan ke-6. Entoplastron terletak anterior dari lipatan humero-pektoral. Formula plastron adalah abd>fem>pect><an>hum><gul. Plastron kuning atau krem dengan bulatan besar berwarna coklat gelap atau hitam di setiap sisik. Dua bulatan besar hitam terdapat di jembatan. Kepala relatif besar dan moncong menonjol (proyeksi) ke anterior. Emarginasi posterior dari tulang tengkorak sangat dalam tetapi emarginasi bagian ventral sangat dangkal. Emarginasi posterior memisahkan supratemporal dari postorbital dan meluas sampai ke tulang frontal. Squamosal yang bersinggungan dengan maksila melebar. Foramen orbito-nasal kecil. Rahang atas bertakik di bagian median; permukaan penggerusnya rata dan lebar dengan sedikit kasar di bagian tengah (suatu adaptasi untuk menggerus cangkang keong. Pada rahang bawah, tulang angular pendek dan preartikular memanjang lebih ke anterior; prosses koronoid sangat besar.  Kepala hitam dan dihiasi dengan garis-garis berwarna kuning  atau krem. Garis pertama mulai dari moncong di atas nostril memanjang ke posterior di atas kedua orbit sampai ke leher. Garis kedua mulai pada setiap sisi moncong tepat di belakang nostril dan melengkung ke bawah kemudian ke belakang melewati bawah orbit sampai ke leher. Dua garis tipis dimulai dari nostril sampai ke takik median rahang atas; jika mulut tertutup, garis-garis tersebut bersinggungan dengan  garis serupa yang terdapat di rahang bawah. Garis tipis yang lain dimulai di belakang orbit dan melintasi timpanum. Garis diskontinyu yang lain kadang terdapat di rahang bawah. Di dorsal kepala ditutupi oleh satu sisik sedangkan di belakang kepala ditutupi oleh sejumlah sisik. Warna anggota tubuh adalah abu-abu sampai hitam dengan warna kuning sempit di tepi sebelah luar.

Killebrew (1977a) melaporkan kariotip kura-kura ini adalah 2n=52 (8 pasang metasentrik, 3 pasang submetasentrik dan 2 pasang daripada makrokromosom, dan 13 pasang mikrokromosom), tetapi penelitian lebih baru oleh Bickham (1981) menemukan bahwa jumlah kromosom diploidnya hanya 50 kromosom.

Plastron kedua seks adalah datar, sehingga penentu seks harus didasarkan pada karapas  yang panjang dan ekor yang lebih tebal pada jantan.

Penyebaran

Penyebaran M. subtrijuga  mulai dari Vietnam bagian Selatan terus ke Barat melewati Kamboja dan Thailand (dan mungkin Burma bagian Selatan) dan terus ke Selatan melewati Semenanjung Malaya, Sumatera sampai ke Jawa. Di Jawa banyak ditemukan di daerah rawa-rawa di sekitar Banten.

Habitat

Kura-kura ini hidup di badan perairan yang mengalir tenang dengan dasar perairan lembut dan banyak vegetasi akuatiknya. Juga ditemukan di danau, kanal, aliran kecil, rawa dan pesawahan padi.

Kehidupan

Telur M. subtrijuga memanjang berwarna putih dengan ukuran 40-45 x 20-25 mm (smith, 1931), dan Ewert (1979) melaporkan bahwa 11 anak kura-kura yang baru menetas mempunyai panjang karapas 35.3 mm. M. subtrijuga pada dasarnya dalah pemakan keong, walaupun juga memakan cacing tanah, insekta air, krustasea dan ikan kecil (Wirot, 1979). Banyak spesimen berukuran kecil diimpor ke USA sebagai hewan piara.

Siebenrockiella Lindholm, 1929

Genus ini diwakili oleh hanya satu spesies, yaitu Siebenrockiella crassicollis (Gray, 1831b).

Pengenalan

Karapas lonjong, pipih, berlunas tiga (karapas sampai 20 cm) dan tepi posterior sangat bergerigi, warna keseluruhan hitam-coklat atau hitam. Karapas lebih lebar di belakang tengah. Lunas median selalu kelihatan, tetapi dua lunas lateral kurang kelihatan pada individu besar. Vertebral kura-kura dewasa rata bagian dorsalnya dan 4 pertama biasanya lebih lebar anteriornya dan menyempit di posterior, tetapi vertebral ke-5 lebih lebar posterior dibanding anteriornya. Pada dasarnya tulang neural tidak memanjang dan lebih pendek di anterior; sedangkan di tengah jajaran neural hampir selalu persegi. Plastron berkembang dengan baik, tanpa engsel, dan sambungan ke karapas sangat ekstensif. Tepi posterior anal bertakik, dan tepi lateral berlunas rendah setidaknya sampai sejauh posterior femoral. Lipatan humero-pektoral memotong entoplastron. Formula plastron adalah abd>pec>fem> an>gul>hum. Luas jembatan kira-kira sama panjang dengan lobus posterior plastron, penopang berkembang baik; penopang aksilar menempel ke bagian tengah sepanjang kostal pertama dan penopang inguinal menempel ke sepertiga sambungan antara kostal ke-5 dan ke-6. Sisik aksilar dan inguinal berukuran sedang sampai besar. Warna jembatan dan plastron beragam mulai dari hitam rata atau coklat gelap sampai ke coklat kekuningan dengan spot hitam atau suatu pola hitam yang ekstensif mengikuti lipatan. Kepala besar, agak melebar dan pendek, moncong sedikit mencuat. Pada tengkorak, quadratojugal bersinggungan dengan jugal dan postorbital, dan foramen palatine posterior agak lebih besar dibanding foramen orbito-nasal yang kecil. Bagian median rahang atas bertakik, sempit, dan permukaan penggerusnya rata. Kepala hitam sampai abu-abu gelap dengan bercak-bercak berbayang putih, krem atau spot kuning di belakang kedua orbit, dan rahang berwarna krem sampai coklat. Posterior kepala ditutupi oleh sisik-sisik kecil, dan garis sempit dari sisik-sisik granular kecil terdapat di antara orbit dan tympanum. Leher yang gemuk berwarna hitam atau abu-abu gelap, membuat kepala kelihatan pendek. Anggota tubuh dan ekor berwarna abu-abu gelap sampai hitam. Jari-jari berselaput, dan sisi anterior kaki depan ditutupi oleh sisik-sisik besar transversal.

Killibrew (1977a) melaporkan kariotip diploid adalah 52, tetapi Stock (1972) dan Bickham dan Baker (1976a) sebelumnya menemukan 50. Bickham dan Baker (1976a) juga melaporkan bahwa dari satu individu yang diuji adalah heterosigot yang diduga inversi presentrik. Telaah lebih lanjut oleh Carr dan Bickham (1981) mengkomfirmasikan heteromorfisme pada pasangan macrochromosome pada jantan, yang mana mereka dalam sistem penentuan seks diinterpretasikan sebagai XX/XY, merupakan penemuan pertama dalam Emydidae dan hanya beberapa sistem dalam kura-kura selain yang telah ditemukan pada kinosternid genus Staurotypus.

Jantan mempunyai plastron agak cekung dan tebal dengan ekor panjang dibanding pada betina yang plastronnya datar. Betina masih menyisakan spot putih di belakang mata, sedangkan pada jantan sudah memudar.

Penyebaran

Kura-kura ini sangat dikenal mulai dari Vietnam ke arah barat melewati Thailand sampai Tenasserim, Birma, dan ke arah selatan melewati Malaya sampai Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Habitat

S. crassicollis hidup di perairan beraliran tenang, berdasar lembut dan pada perairan dengan vegetasi yang melimpah; aliran dangkal, sungai-sungai, danau, rawa dan semua lingkungan yang memberikan habitat yang cocok.

Kehidupan

Di dalam pemeliharaan jantan yang diamati sedang mencumbu sering memunculkan kepalanya di atas betina sebagai akibat kejar-kejaran yang dilakukan disekeliling kolam. Sesuai dengan E. Moll, S. crassicollis di Malaysia dapat meletakkan 3 sampai 4 sarang yang berisi satu atau dua butir telur selama musim kawin mulai April sampai Juni. Ewert (1979) melaporkan bahwa telur memanjang dengan ukuran 45×19 mm, dan bahwa 12 kura-kura yang baru menetas mempunyai rata-rata panjang karapas 52 mm.

Kura-kura ini bersifat karnivor, yaitu makan cacing, keong, sampah, udang dan amfibia. Juga memakan bangkai, dan Wirot (1979) melaporkan bahwa dia makan buah rotan yang jatuh ke air. Kebanyakan makanannya ditangkap dan dimakan di dalam air, tetapi Wirot (1979) menyatakan bahwa dia naik ke daratan pada malam hari untuk mencari makanan atau kawin.

S. crassicollis adalah penyelam dasar, sebagian besar waktunya membenam di lumpur, walaupun begitu, setidaknya di pemeliharaan kadang-kadang berjemur. Beberapa pedagang menyebutnya sebagai kura-kura biara kuil Siam karena kebiasaannya yang suka berada di pojok bangunan dengan kepala ditengadahkan ke atas.

Notochelys Gray, 1863a

Genus ini unik dengan sisik vertebral lebih dari 5. Biasanya 6 atau 7, atau 2 sisik kecil berkembang diantara vertebral normal ke-4 dan ke-5. Sisik tambahan ini berhubungan simetri dengan sisik pleural yang berdekatan dan posisinya tepat dalam jajaran vertebral. Hal ini berbeda dengan vertebral abnormal tambahan yang berasal dari pembagian asimetri yang ditemukan pada kura-kura lainnya. Dikenal hanya satu spesies, yaitu Notochelys platynota.

Notochelys platynota (Gray, 1834a)

Pengenalan

Karapas oval sampai memanjang (sampai 32 cm), bagian dorsal datar dan tepi posterior bergerigi (lebih-lebih pada juvenil). Terdapat lunas median yang terpotong-potong. Vertebral ada 6 atau 7; 4 yang pertama dan yang paling posterior berukuran besar yang lebih lebar dibanding panjang, tetapi antara vertebral ke-4 dan terakhir terdapat sisik tambahan yang lebih kecil dan panjang sama dengan lebar atau sedikit lebih panjang dibanding lebar. Neural heksagonal lebih pendek di anteriornya. Warna karapas beragam mulai dari coklat kehijauan sampai coklat kekuningan atau coklat kemerahan, dan pada setiap sisik terdapat spot atau pencaran berwarna gelap. Juvenil mempunyai dua spot pada setiap vertebral dan satu spot pada setiap neural. Plastron dan karapas dihubungkan oleh ligamen walaupun masih ditemukan jembatan, penopang plastron biasanya tidak ditemukan pada kura-kura dewasa. Engsel transversal pada kura-kura dewasa kurang berkembang di antara hyo dan hypoplastron. Entoplastron dipotong oleh lipatan humero-pectoral. Formula plastron adalah abd><pek>an>gul>hum >fem; dan bagian posterior sisik anal tidak atau sedikit bertakik. Plastron dan jembatan berwarna kuning sampai oranye dengan spot besar berwarna gelap pada setiap sisik. Pada tengkorak mungkin terdapat squamosal. Smith (1931) melaporkan bahwa tengkorak mempunyai lengkung temporal yang lengkap atau kurang tergantung pada hilangnya quadratojugal dan postorbital. Pada genus-genus Asia, squamosal (=quadratojugal) tidak ada atau hilang. McDowell (1964) menemukan bahwa squamosal pada dua tengkorak Notochelys yang diuji, dan telah secara skeptis dilaporkan tidak adanya tulang ini karena mudah lepas selama preparasi, meninggalkan jejak sedikit atau tidak sama sekali pada quadrat sebagai pembentuknya. Jika ada, squamosal dipisahkan dari jugal oleh postorbital. Foramen orbito-nasal yang mewadahi arteri palatine dan arteri anastomotic bergabung dengan kanal arteri Vidian, bagian lateral di atas lantai kanal cavernosum sampai ke batas dari basiphenoid dan bagian anterior sampai ke foramen caroticum primitif. Fissure ethmoid melebar dan postlagenar hiatus besar dan membulat. Anterior dari prosses parietal sangat menjulur keluar, bersinggungan dengan jugal. Rahang mempunyai permukaan penggerus yang sempit dan rata. Rahang atas bertakik median yang dibatasi oleh dua mangkok mirip gigi. Moncong agak mencuat dan permukaan posterior kepala ditutupi oleh sisik-sisik kecil. Kepala dan leher coklat, pada juvenil terdapat garis kuning longitudinal menutupi kedua mata dan garis-garis yang lain mulai dari sudut mulut ke arah belakang sampai leher. Anggota tubuh coklat dan mempunyai sisik melebar transversal. Jari-jari berselaput dan ekor panjang.

Carr dan Bickham (1986) melaporkan kariotipnya adalah 2n=52.

Jantan mempunyai plastron yang lebih cekung dengan ekor lebih tebal dibanding plastron yang datar pada betina.

Penyebaran

Berkisar dari Semenanjung Thailand ke arah Selatan sampai Malaya, Sumatera dan Jawa sampai ke Kalimantan. Tidak ada laporan dari Vietnam. Di Jawa dilaporkan hanya ditemukan di pegunungan Tengger, Jawa Timur.

Habitat

Perairan dangkal dengan dasar lembut, vegetasi melimpah dan beraliran tenang seperti rawa-rawa, saluran dan danau di hutan lebih disukai.

Kehidupan

Spesies ini tidak diketahui perilaku reproduksinya; walaupun begitu, kura-kura yang baru menetas berwarna lebih cerah dan sangat bergerigi, lunas lebih tinggi dan panjang karapas sekitar 55-57 mm.

N. platynota adalah herbivor, lebih senang memakan tanaman air. Dalam pemeliharaan bisa memakan beragam buah seperti pisang.

Flower (dalam Smith, 1931) mengomentari bahwa di lingkungan liarnya Notochelys menutup diri dalam cangkang sambil berbunyi, dan jika diangkat akan defekasi. Sayang sekali, di pemeliharaan masih mempertahankan kebiasaan ini.

Cyclemys Bell, 1834

Genus oriental Cyclemys disamakan dengan Pyxidea dan Cuora dalam hal mekanisme penutupan plastron dan kemungkinan berasal dari nenek moyang yang mirip dengan Hesosemys (Bramble, 1974). McDowell (1964) mengemukakan juga kekerabatannya dengan genus Geoemyda. Spesies yang menyebar luas adalah C. dentata sedang yang kurang dikenal adalah C. thceponensis (endemik di Vietnam) yang baru saja digolongkan ke Cyclemys.

Karapas kura-kura dewasa lonjong, sedikit melengkung dan lebih panjang dibanding lebarnya; juvenil pipih dan membulat. Terdapat lunas median dan lateral, tetapi merendah dengan bertambahnya umur. Neural berbentuk heksagonal dengan bagian posteriornya lebih pendek. Tepi posterior karapas bergerigi, terutama pada juvenil. Plastron besar dan terdapat engsel yang berkembang diantara tulang hyo dan hypoplastron pada lipatan diantara pektoral dan abdomimal. Hal ini menyebabkan lobus anterior bisa menutup walaupun tidak sempurna. Pada kura-kura dewasa, penopang plastron diserap dan plastron dihubungkan dengan karapas hanya oleh suatu ligamen. Tengkorak mempunyai lengkung temporal yang lengkap, tetapi squamosal tidak bersinggungan secara normal dengan jugal. Bagian ventral jugal melebar. Persinggungan parietal dengan tulang quadrat di atas foramin adalah untuk syaraf trigeminal; tetapi, pada sisi anterior dari prosses parietal inferior tidak bersinggungan dengan jugal atau palatin. Bentuk fissure etmoidal segitiga lancip atau seperti lubang kunci. Permukaan penggerus rahang atas sempit dan rata. Mempunyai bursa kloakal. Jari-jari berselaput sebagian.

Nakamura (1949), Stock (1972) dan Killebrew (1977) me­la­porkan kariotip C. dentata adalah 2n=52; tapi Kiester dan Childress (dalam Gorman, 1973) menemukan variasi antara 50 dan 52.

Cyclemys dentata (Gray, 1831b)

Pengenalan

Bentuk C. dentata mudah dikenali yaitu tipis dengan cangkang lebih lebar dibanding C. mouhoti. Karapas lonjong (sampai 24 cm), sedikit melengkung dan terdapat satu lunas di median yang rendah. Vertebral biasanya lebih lebar dibanding panjang, tetapi vertebral ke-2 sampai ke-4  panjang dan lebarnya bisa sama. Tepi posterior karapas bergerigi, dan semua sisik mempunyai permukaan yang halus. Warna karapas beragam dari coklat terang sampai gelap, hitam, kehijauan atau kadang-kadang mahagoni; terdapat garis-garis kecil memencar. Plastron pada hewan dewasa lebih sempit dibanding bukaan karapas dan bertakik di bagian posterior. Formula plastron adalah pec>abd>an>fe><gul>hum. Warna plastron beragam dari kuning atau coklat muda dengan garis-garis gelap memencar sampai ke warna coklat tua atau hitam rata. Moncong agak mencuat dan di kedua sisi rahang atas tidak mirip gigi. Posterior kulit kepala ditutupi oleh sisik-sisik besar; dorsal kepala coklat kemerahan sedangkan di sisi dan rahang coklat tua. Bagian yang lunak berwarna abu-abu dengan titik-titik kuning atau merah muda kekuningan, titik-titik tersebut di bagian leher membentuk strip. Kaki coklat muda dan di sisi depan terdapat sisi-sisik besar. Jari-jari berselaput sebagian. Engsel plastron berkembang pada spesimen dewasa (yaitu 9 atau 10 inci), tetapi kadang spesimen dengan panjang 6 atau 7 inci tidak ada tanda-tanda berkembangnya engsel dan sudut yang tajam yang tampak diantara pertemuan pektoral dan abdominal pada midline memberikan kesan bahwa tidak mungkin engsel berkembang disitu. Walaupun demikian, begitu mencapai dewasa jembatan saling mendekat karena jaringan yang fleksibel dan engsel berkembang melintasi bagian depan sisik abdominal.

Spesimen muda dari C. dentata kadang rancu dengan Heosemys grandis. Walaupun begitu, grandis mempunyai pigmentasi yang lebih hitam di bagian bawahnya, garis-garis yang memencar di setiap sisik menjadi lebar dan aerola berwarna hitam, dan secara mencolok rahang atas bicuspid, dan titik-titik di bagian atas kepala sama dengan di bagian sisi kepala.

Hewan betina kura-kura ini tumbuh lebih besar dibanding jantan, tetapi jantan lebih panjang dengan ekor lebih tebal.

Penyebaran

India bagian Utara ke arah Selatan melewati Birma, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Malaya sampai ke Sumatera, Nias Kepulauan Natuna, Bangka Jawa dan Kalimantan. Juga ditemukan di Filipina (Pulau Palawan, Balabac dan Leyte).

Variasi Geografis

Belum dipelajari, tetapi memperhatikan Smith (1931) diduga variasi pola warna tidak berhubungan dengan distribusi geografis. Tidak ada subspesies yang dianggap valid, walaupun corak warna spesies ini sangat beragam.

Habitat

Merupakan kura-kura semiakuatik yang hidup di perairan dangkal baik di dataran rendah maupun di pegunungan.

 

Kehidupan

Wirot (1979) mencatat beberapa sarang telur diletakkan sepanjang tahun. Sarang secara tipikal mengandung 2 atau 3 butir telur yang memanjang, putih dengan ukuran 57×30-35 mm (smith, 1931; Ewert, 1979). Plastron betina agak bisa digerakkan sehingga bisa meletakkan telur yang besar. Ewert (1979) yang mengukur 12 penetasan menemukan rata-rata panjang karapas adalah 56.2 mm.

C. dentata bersifat omnivor,  yaitu makan baik tumbuh-tumbuhan atau hewan, di dalam air atau di darat. Hewan ini peramah dan lincah, dan berkembang dengan baik dalam pemeliharaan sehingga sangat laku sebagai hewan piara. Bersama-sama dengan Notochelys platynota, para pedagang hewan piaraan menyebutnya sebagai kura-kura matahari. Spesimen muda di lingkungan liarnya adalah akuatik tetapi dewasa hampir selalu terestrial.

Cuora Gray, 1855

Asiatic box turtle dari genus Cuora secara umum dianggap berkerabat dekat dengan genus Cyclemys, walau pada penampakan tengkorak secara eksternal pada juvenilnya lebih mirip dengan Mauremys, terutama M. mutica. Pada beberapa spesies anggota genus ini mempunyai batang postorbital sedang yang lain tidak.

Genus Cuora adalah hewan tropik dan hidup di habitat semiakuatik. Karapas kura-kura dewasa bisa sangat atau agak cembung, dengan satu lunas median dan dua lunas longitudinal paralel, dan tepi karapas posterior rata. Tulang neural berbentuk heksagonal dengan bagian posteriornya pendek. Terdapat engsel plastron di antara pektoral dan abdominal (antara hyo dan hypoplastra) yang menyebabkan dua lobus plastron bisa digerakkan dan bisa menutup cangkangnya dengan rapat seperti American box turtle (Terrapene). Tepi posterior lobus belakang kadang bertakik. Entoplastron dipotong oleh lipatan humero-pektoral. Tidak ada jembatan dan penopang plastron karena kebanyakan diserap; plastron dihubungkan dengan karapas oleh suatu ligamen. Tengkorak pendek dan biasanya mempunyai lengkung temporal yang lengkap (kecuali C. flavomar­ginata). Squamosal bersinggungan dengan postorbital tetapi tidak dengan jugal. Jugal dipisahkan dari quadratojugal oleh postorbital (quadratojugal tidak ada pada C. flavomarginata dan C. galbinofrons). Tepi anterior dari prosses parietal inferior tidak ke depan, dan ia dipisahkan dengan jugal oleh pterygoid, tetapi tidak bersinggungan dengan palatine. McDowell (1964) mencatat bahwa pterygoid gagal tumbuh dan menutupi permukaan medial dari quadrat sehingga memunculkan ia dari dinding kanal cavernosa. Permukaan penggerus rahang sangat sempit, dan premaksila bersinggungan membentuk prosses seperti kait. Jari-jari berselaput sebagian.

Kromosom diploidnya berjumlah 50 atau 52 (Gorman, 1973).

Bour (1980b) dan Hirayana (1984) menempatkan spesies flavomarginata, galbinifrons dan hainanensis ke dalam genus Cistoclemmys Gray, 1863a, sedang yang lain tetap pada genus Cuora. Penempatan tersebut didasarkan pada kranial (deskripsi oleh Hirayana, 1984) dan pada perkiraan tidak adanya lipatan interanal. Dalam hal ini mereka tidak setuju pada karakter-karakter penting dari struktur karapas dan struktur engsel plastron dan kinetik karapas (Bramble, 1974). Pengujian atas seri flavomarginata dan galbinifrons oleh Ernst memperlihatkan bahwa lipatan interanal hilang (atau diwakili oleh tonjolan yang rendah) sebagai akibat abrasi. Juvenil yang kecil masih mempunyai lipatan tersebut sedangkan juvenil yang besar memperlihatkan kehilangan yang progresif berkaitan dengan meningkatnya panjang cangkang. Pada beberapa hewan dewasa C. amboinensis, terutama dari Filipina, lipatan tersebut hilang. Sebagai tambahan, Sites, et.al. (1984) yang melakukan studi hubungan biokimiawi diantara kura-kura Batagurinae mendukung penempatan flavomarginata ke dalam Cuora. Hubungan inter­spesifik di dalam Cuora saat ini sedang dipelajari oleh Ernst, dan kami merasa masih terlalu dini untuk memisahkannya ke lain genus.

Cuora amboinensis (daudin, 1802)

Pengenalan:

Karapas hewan dewasa sangat cembung (sampai 20 cm) dengan atau tanpa lunas median; karapas hewan muda pipih dan terdapat 3 lunas yang tinggi. Bagian anterior vertebral pertama lebih luas dibanding posteriornya, vertebral ke-2 dan ke-5 lebih panjang dibanding lebar, dan ke-3 dan ke-4 biasanya lebih lebar dibanding panjang. Tepi posterior karapas agak keluar tetapi tidak sampai bergerigi, dan tidak bertakik atau kalaupun ada hanya sedikit. Warna karapas hitam kehijauan atau hitam rata. Plastron menutup sempurna bukaan karapas. Lobus posterior plastron membulat. Formula plastron adalah abd><an>pek>gul> fem>hum. Aksilar dan inguinal sangat kecil atau tidak ada. Plastron kuning sampai coklat muda, dan di bagian luar setiap sisik terdapat bulatan coklat gelap atau hitam memencar ke depan. Bagian bawah marginal kuning, dan setiap sisiknya terdapat bercak hitam. Kepala kecil sampai sedang dengan moncong mencuat dan rahang atas membentuk kait; warna kepala bagian dorsal hijau sampai coklat gelap, menghitam di lateral dan ke arah posterior menjadi kuning sampai hijau muda. Di setiap sisi terdapat garis kuning yang berjalan ke anterior dari bagian leher melewati atas orbit sampai ke ujung moncong di atas nostril yang mana di situ bertemu dua garis dari masing-masing sisi. Dua pasang garis kuning yang lain juga terdapat pada setiap sisi kepala. Pertama mulai dari nostril melewati orbit dan timpanum terus ke sisi leher. Kedua mulai dari bawah nostril melewati sepanjang rahang atas terus ke leher. Di bawah rahang dan dagu kuning, anggota tubuh kehijauan atau hitam dan sisi depan kaki depan ditutupi oleh sisik yang melebar horisontal.

Hewan jantan mempunyai plastron yang agak cekung dan panjang serta berekor tebal.

Penyebaran

Cuora amboinensis ditemukan di Kepulauan Nichibar, Bangladesh (Khan, 1982), Asaam (Moll dan Vijaya, 1986), ke selatan melewati Birma, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Malaya, dan ke Indonesia bagian Timur, Sulawesi dan Ambon (tipe lokalitas). Juga ditemukan sampai Filipina (Luzon, Palillo, Dinagat dan Mindanao). Secara khusus, C. amboinensis merupakan kura-kura air tawar yang di Indonesia mempunyai penyebaran yang paling luas.

Variasi Geografis

Walaupun penyebaran C. amboinensis ini sangat luas tidak ditemukan variasi subspesies yang telah dideskripsikan. Pada beberapa daerah penyebaran, ditemukan bentuk karapas agak rata.

Habitat

Hidup di perairan dataran rendah dengan dasar lembut dan beraliran tenang, seperti rawa-rawa, danau, waduk dan genangan persawahan padi. Sebagian masyarakat di Jawa menyebutnya dengan nama kura-kura sawah. Walaupun sangat akuatik, sering ditemukan jauh dari air. Taylor (1920) melaporkan bahwa juvenil sepenuhnya akuatik.

Kehidupan:

Cuora amboinensis peramah dan pemalu. Hanya bertelur 2 butir yang diletakkan antara April sampai akhir Juni dengan tiga sampai empat sarang. Cangkang telur rapuh, putih, memanjang dengan ukuran 40-46 mm x 30-34 mm (Smith, 1931). Kura-kura yang baru menetas mempunyai 3 lunas dengan panjang karapas 46-48 mm.

Di alam liar, C. amboinensis bersifat herbivor, tetapi di pemeliharaan dia segera belajar memakan berbagai makanan hewani dan sangat rakus.

Spesies Kura-kura Asli Indonesia

Kura-kura air tawar berada di bawah Ordo Testudines, klas reptilia diluar Famili Chelodinidae (penyu laut) dan Famili Testudinidae (kura-kura darat). Ordo ini merupakan kelompok hewan yang unik dengan ciri utama adalah adanya karapas dan plastron yang menyelubungi seluruh tubuh kecuali kepala, anggota tubuh dan ekor. Karapas dan plastron ini umumnya mempunyai struktur yang keras dan kompak, walaupun pada Trionychidae (labi-labi atau bulus) berupa kulit yang lunak.

Saat ini telah dan sedang terjadi fragmentasi dan kerusakan habitat perairan yang sangat hebat yang umum terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Efek langsung maupun tidak langsung pada populasi kura-kura air tawar adalah penuruan populasi yang sangat tajam. Selain masalah habitat, beberapa spesies kura-kura air tawar diekploitasi secara besar-besaran sebagai komoditas ekspor (misalnya labi-labi) dan untuk hewan peliharaan yang eksotik. Perburuan liar merupakan ancaman yang sangat serius jika dihubungkan dengan kemampuan reproduk­si­nya yang lambat.

Selain masalah reproduksi yang lambat, tingkat pertumbuh­an­nya juga lambat. Dilaporkan bahwa labi-labi mencapai dewasa dan mampu bertelur setelah berumur 2 tahun atau lebih tergantung kualitas lingkungan. Dengan tingkat reproduksi dan pertumbuhan yang lambat jika dihadapkan pada kerusakan lingkungan perairan yang cepat dan perburuan liar, maka tidak mustahil dalam waktu yang cepat populasi kura-kura ini akan menurun dengan drastis.

Sebagai ciptaan yang unik, berumur panjang dan tahan hidup di lingkungan yang ekstrem, beberapa kelompok masyarakat atau kelompok etnik tertentu mempercayai hewan ini sebagai keramat dan memberi tuah. Secara tradisional, masyarakat Jawa (terutama Jawa Barat) menganggap labi-labi merupakan hewan keramat. Walaupun sampai sekarang di beberapa tempat masyarakat tradisional masih menganggap keramat, akibat permintaan pasar begitu tinggi yang diikuti dengan harga yang tinggi pula maka kelangsungan populasinya patut dikhawatirkan. Serbuan permintaan pasar ini juga disebabkan oleh kepercayaan tradisional etnik Cina, Korea dan Jepang yang jika memakannya bisa memperpanjang umur dan memberikan kekuatan supranatural. Ribuan ekor labi-labi per hari ditangkap dari alam di Kalimantan, Sumatera dan Jawa untuk kemudian diperjualbelikan sebagai komoditas ekspor ke Cina Taiwan, Korea, Singapura, Hongkong dan Jepang. Mengatasi permintaan yang tinggi itu, seharusnya kita berupaya untuk membudidayakannya sehingga populasi alaminya tidak terganggu. Masalah budidaya selalu terbentur pada pertumbuhan dan reproduksinya yang lambat. Untuk itu, harus ada yang memulainya dengan langkah awal mencari sifat-sifat biologis yang secara komparatif unggul untuk dibudidayakan selain mencari teknik pembudidayannya.

Usaha untuk mengenalkan bangsa kura-kura yang menyebar di Indonesia relatif kurang. Jika dibandingkan dengan bangsa reptilia yang lain seperti komodo, penyu laut atau buaya, maka bangsa kura-kura seperti dianaktirikan. Hal ini bisa terlihat di Kebun-kebun binatang yang ada di Indonesia atau malah di Museum Zoologi Bogor. Di lembaga-lembaga tersebut, koleksi kura-kura air tawarnya sangat sedikit. Selain itu penelitian-penelitian berbagai aspek biologis tentang bangsa ini yang menyebar di Indonesia sangat kurang. Karena itu, kami dari Program Konservasi dan Pengembangan Reptilia dan Amfibia (PKPRA), Lembaga Penelitian IPB, berusaha memulainya dengan membuat sinopsis dari beberapa spesies yang menyebar di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa berdasarkan species checklist yang dibuat oleh Whitten dan McCarthy tahun 1993.

Famili Trionychidae – labi-labi; bulus

       Dogania subplana – Labi, Bulus Labi-labi, Layi-layi, kuya

       Amyda cartilaginea – Bulus, Labi-labi, Kuya, Labi Super

       Chitra indica – Labi bunga

       Pelochelys cantorii – Labi besar

       Pelochelys bibroni – Papua Giant Soft-shelled Turtle (?)

Bataguridae – Kura-kura kotak

       Batagur baska Tuntong Laut

       Callagur borneoensis – Beluku, Biuku, Sutong, Tuntong sungai

       Cuora amboinensis – Kura katap, Kura-kura, Kura-kura patah, kura sawah

       Cyclemys dentata – Beluku, Bulus, Kura matahari, Kura bergerigi, kura daun

       Heosemys grandis – Kura besar

       Heosemys spinosa – Kura duri,  Kura matahari, Kura bergerigi, Kura-kura dari bukit

       Hieremys annandalei – Kura tokong

       Malayemys subtrijuga – Jelebu siput

       Notochelys platynota – Biuka, Kura punggung datar

       Orlitia borneensis – Juku-juku besar, Baning dayak

       Siebenrockiella crassicollis – Kura-kura kolam, Jelebu hitam, Kura Siam

       Geoemyda yuwonoi – Kura-kura kayu Sulawesi

Dermochelyidae – Penyu lunak

       Dermochelys coriacea – Penyu timbo, Penyu belimbing, Penyu lunak, Kamban, Kembau, Agal

Cheloniidae- Penyu

       Caretta caretta – Penyu karah, Penyu kepala besar, Penyu sisek tempurong

       Chelonia mydas – Penyu agar, Penyu hijau, Penyu pulau, Penyu emergit

       Eretmochelys imbricata – Penyu karah, Penyu lilin, Penyu sisik

       Lepidochelys olivacea – Penyu  lipas

Testudinidae – Kura-kura darat

       Manouria emys – Baning perang, Kura-kura enam khaki, Kadazandusun, Suyan

       Manouria impressa – Baning bukit

Carettochelyidae

       Carettochelys insculpta – Labi-labi moncong babi

Suborder Pleurodira (Hanya ada di Indonesia Bagian Timur)

       Chelodina mccordi – Roti Island Long-necked Turtle

       Chelodina novaeguineae – New Guinea Snake-necked Turtle

       Chelodina parkeri – Parker’s Snake-necked Turtle

       Chelodina reimanni – Reimann’s Snake-necked Turtle

       Chelodina siebenrocki – Siebenrock’s Snake-necked Turtle

       Elseya branderhorsti – Southern New Guinea Snapping Turtle

       Elseya novaeguineae – New Guinea Snapping Turtle

       Elseya schultzei – Northern New Guinea Snapping Turtle

       Elseya sp. – The Pink-bellied Short-necked Turtle

       Emydura subglobosa – Red-bellied Short-necked/Painted Side-necked Turtle

Reptil 5: Cara Hidup Reptil

Beberapa anggota kelompok hewan reptil mempunyai garis evolusi yang berbeda-beda. Walaupun semuanya dilengkapi dengan sisik  dari zat tanduk dan berdarah dingin, berbagai jenis reptil mempunyai cara hidup yang berbeda-beda. Berdarah dingin bisa diasosiasikan dengan laju metabolisme rendah. Hal ini berarti sebagian besar reptil tidak terlalu banyak membutuhkan makanan, bergerak lambat dan sangat tergantung ke suhu lingkungan.

Berdasarkan tempat hidupnya, reptil bisa dibagi menjadi

  1. arboreal: hidup di pepohonan dan kadang turun ke tanah. Misalnya tokek dan cicak
  2. teresterial: sebagian besar hidup di darat. Misalnya kadal kebun
  3. semiakuatik: hidup di air dan darat. Misalnya beberapa spesies kura-kura dan buaya
  4. akuatik penuh: sebagian besar hidupnya di dalam air. Misalnya labi-labi atau bulus.

Berdasarkan makanan yang dimakan:

  1. karnivora: makanan utamanya adalah daging
  2. herbivora/vegetarian: makanan utamanya bagian-bagian tanaman
  3. omnivora: bisa makan apa saja

Tergantung pada teknik pemeliharaan, pembagian diatas tidak seluruhnya bisa diterapkan untuk satu jenis. Kadang sewaktu kecil herbivora kemudian setelah dewasa berubah menjadi karnivora atau sebaliknya.

Berdasarkan perilaku dan adaptasinya:

  1. menggali tanah,
  2. membenamkan diri di lumpur, bersembunyi di celah-celah gelap atau menyeruak semak-semak/serasah,
  3. meletakkan telur di atas tanah, menggali tanah atau membuat sarang,
  4. menyukai tempat lembab, kering, bercahaya terang atau gelap, dsb

Berkenaan dengan perilaku dan adaptasinya, para pecinta reptil lebih menyukai memelihara bayi reptil. Jika reptil sering didekati dan disentuh sejak bayi maka peluang untuk menjadi jinak jauh lebih besar dibanding kalau sudah dewasa. Selain masalah penjinakan, beberapa orang lebih menyukai memelihara bayi reptil karena bentuk tubuhnya yang mulus dengan pola warna cerah dan “lucu”. Karakter lucu sebenarnya melekat ke setiap bayi dari berbagai hewan akibat hukum alometri.

Berbagai pola hidup diatas perlu diketahui secara ditil untuk merancang model terarium (kandang untuk reptilia). Misalnya untuk yang arboreal sebaiknya terarium berbentuk persegi panjang dengan sisi tinggi lebih dari dua kali lipat sisi panjang. Sedangkan untuk yang semiakuaik perlu dibuatkan bagian kandang yang berisi air dan bagian kandang yang berisi tanah atau ke atas air di beri floating. Jika ternyata reptilnya bersifat herbivora tetapi diberi pakan dengan pakan berprotein tinggi maka lama kelamaan ginjalnya akan rusak. Hal ini biasanya ditandai dengan pola pertumbuhan abnormal atau stres. Jika tidak ada informasi pakan alami bagi reptil yang akan dipelihara sebaiknya pakan diberikan dalam berbagai jenis dan bentuk sambil terus dipelajari pakan apa saja yang disukai dan yangn tidak disukai. Keberhasilan mengakomodasi cara hidup reptil yang mendekati cara hidup di alam liarnya biasanya ditunjukkan dengan keberhasilan reptil bertelur dengan kondisi telur yang baik dan fertil.

Perilaku diatas juga diperlukan untuk mengkombinasikan berbagai spesies reptil dalam satu terarium tanpa sekat dan untuk mendesain ornamen terarium. Pengamatan yang intensif harus dilakukan pada saat reptil pertama kali menghuni terarium. Paling tidak ada dua jenis terarium, yaitu indoor dan outdoor. Terarium indoor biasanya berupa akuarium dengan berbagai ukuran, dimensi panjang dan lebar dan tipe substrat. Sedangkan terarium outdoor sangat fleksibel yang mencontoh suasana hutan (semak, pohon), ada bagian basahnya (berupa kolam atau selokan) dan ada bagian keringnya (substrat lunak, tanah, dan/atau pasir).

Next Page »